Desa Sumbermulyo, 1987. Sawah menguning
menjelang panen raya. Udara lembap membawa bau
tanah basah dan sesekat dari dapurdapur kayu.
Bapak Parto pulang setelah tiga puluh tahun di
Kalimantan, membawa peti besi tua dan batuk
kering yang tak kunjung sembuh. Ia menyewa gubuk
kosong di ujung barat dusun, dekat makam tua
yang dulu digunakan sebagai pos lapor semasa
revolusi.
Anakanak takut mendekat. Hanya Surti, gadis dua
belas tahun yang masih duduk di kelas enam SD,
berani mengantar nasi bungkus setiap pagi. Ia
datang tanpa diminta, tas sekolah compangcamping
tergantung di bahu kurus. Warga bilang ia anak
angkat Mbah Kinem, janda tua yang dulu pernah
jadi dukun bayi sebelum rezim baru melarang
praktik "takhayul".
Panen raya semakin dekat. Tiap malam, lampu
minyak di rumah kepala desa tetap menyala. Rapat
tidak resmi digelar tanpa notulen, hanya empat
orang: lurah, modin, mantri pertanian, dan juru
ukur tanah. Mereka menggambar ulang peta wilayah,
menghapus namanama lama, memasukkan kodekode
baru. Tanah milik warga miskin mulai ditandai
dengan patok plastik biru — simbol proyek
irigasi nasional yang tidak pernah dibicarakan
di balai desa.
Surti mulai sering pingsan usai upacara syukur
panen. Ia tak ingat apa pun, tapi selalu bangun
sambil memegang segenggam padi yang belum
dipanen. Batangnya utuh, bijinya padat, namun
butirbutirnya berwarna hitam seperti arang.
Petani yang mencoba menanamnya di ladang sendiri
gagal — tanah retak, akar busuk, burungburung
mati mendadak.
Bapak Parto mengamati dari jauh. Ia buka peti
besi malammalam, keluarkan foto hitamputih
sekelompok pemuda berseragam lusuh, bertuliskan
"Komite Tani Sumbermulyo, 1948". Salah
satunya
adalah dirinya, muda, tegap, memegang cangkul
besi. Di balik foto, ada cap stempel bulat:
Dewan Rakyat Sementara – Wilayah III.
Ia temukan surat lama di dasar peti. Isinya
perintah dari komandan gerilya: "Jika panen
tumbuh hitam, maka Konspirasi telah aktif. Tanah
ini bukan milik siapasiapa sampai rakyat
bersuara." Surat itu ditandatangani dengan
inisial "S.R." — Soekarno, menurut catatan
pinggir yang ditulis tangan oleh letnan muda
yang kini sudah jadi mayat di Kalimantan.
Bapak Parto datangi Surti saat ia tertidur di
gubuk. Tangannya gemetar letakkan foto di dada
gadis itu. Surti terbangun, mata terbuka tapi
pupilnya hilang — seluruh bola mata menjadi
hitam pekat. Ia berdiri tanpa suara, berjalan
lurus ke makam tua, diikuti Bapak Parto dari
belakang.
Di tengah makam, Surti tarik akar pohon aren tua
dengan tangan kosong. Akar itu ternyata menembus
beton — di bawahnya, ruang bawah tanah
tersembunyi, berisi dokumendokumen negara
darurat 1948, cap stempel asli, dan mesin cetak
mini yang masih berfungsi. Di dinding, tertulis
kalimat besar: "Kemerdekaan adalah hak tiap desa.
"
Lurah dan rombongan datang keesokan harinya
membawa polisi desa. Mereka ingin tangkap Surti
atas tuduhan "gangguan jiwa" dan "
hasutan". Tapi
saat mereka mendekat, semua padi di sawah
bergetar. Angin berhenti. Lalu, satu per satu
patok plastik biru meledak, tanah terbelah, dan
akarakar hitam muncul, membentuk lingkaran
sempurna di sekitar makam.
Tidak ada yang berani masuk. Tidak ada yang bisa
hapus peta lama dari dinding ruang bawah tanah.
Bapak Parto bakar surat itu di hadapan warga,
api berwarna biru, tidak meninggalkan abu.
Surti tidak bicara lagi. Ia tinggal di gubuk
Bapak Parto. Setiap malam, cahaya redup keluar
dari celah dinding. Warga mulai tanam padi
varietas lama. Panen pertama setelah itu,
hasilnya sedikit, tapi butirannya utuh, manis,
dan tidak pernah diserang hama.
Pemerintah pusat kirim tim survei tiga bulan
kemudian. Mereka tidak temukan patok biru. Tidak
temukan laporan palsu. Hanya desa kecil yang
panennya selalu tepat waktu, dan seorang gadis
yang duduk di bawah pohon aren, memandang langit,
seolah menunggu sesuatu yang belum selesai.


