Di tengah desa yang masih menyimpan bau tanah

setelah hujan musim kemarau, seorang anak muda

bernama Raka ditemukan berdiri di depan gerbang

sekolah tua—dengan tubuh yang belum pernah

diajak pulang. Waktu berhenti tiga tahun lalu,

saat ia meninggalkan kampus untuk menyelesaikan

warisan ayahnya. Kini, ia kembali, tapi bukan

sebagai mahasiswa. Ia adalah peserta Turnamen

Bela Diri yang diselenggarakan oleh sebuah

komunitas rahasia: satusatunya cara untuk

membuka kembali pintu waktu bagi yang telah

hilang secara fisik, namun tidak secara jiwa.

Aturan tak tertulis: tiap babak harus dimulai

dengan dua orang bertarung hingga salah satu

jatuh tak sadarkan diri. Tidak boleh menggunakan

senjata, hanya teknik dan kekuatan batin. Siapa

yang bertahan, maka ia akan diberi satu detik

untuk memilih: tetap tinggal di dunia ini, atau

kembali ke masa lalu—tapi hanya jika ia

melupakan semua yang pernah dicintainya.

Raka mengenali lawannya: seorang gadis berambut

panjang yang dulu duduk di bangku sebelahnya

saat ujian akhir. Sari. Ia pergi sebelum

kelulusan, dikabarkan meninggal karena sakit

parah. Tapi kini, Sari berdiri di sana, mata

kosong, tubuh beku seperti patung batu. Ini

bukan pertarungan fisik—melainkan konfrontasi

jiwa. Saat tangan Raka menyentuh wajahnya, ia

merasakan suhu dingin yang tak pernah ada di

dunia nyata.

Dalam sembilan ronde, ia tak pernah mengalahkan

Sari. Setiap kali ia mendekati kemenangan,

tangannya terasa berat, seolah dibekukan oleh

ingatan: harihari di kantin kampus, bisikan di

bawah atap pelindung hujan, janji di bawah pohon

jambu yang tumbang. Ketika Sari jatuh, bukan

karena kekalahan—tapi karena darahnya mengalir

dari hidung, dari telinga, dari matanya. Ia

menangis, tapi tanpa suara.

Di babak final, Raka menolak menyerang. Ia

menunduk, mengucapkan nama Sari—satu kata. Lalu

melepaskan sabuk biru yang melingkari

pinggangnya. Sabuk itu adalah bukti bahwa ia

bukan hanya peserta, tapi juga pewaris RoH

Penjaga: jiwa yang terpilih untuk menjaga jalan

antara dunia hidup dan dunia yang sudah tiada.

Tanah bergetar. Bumi menyerap kembali semua yang

pernah diserap oleh waktu. Pohon jambu tumbang

kembali. Sekolah tua berubah menjadi reruntuhan.

Dan di tempat itu, seorang gadis berdiri—tidak

lagi bersandar pada sosok asing. Ia tersenyum.

Ia pergi.

Raka kembali ke desa. Tak ada yang tahu apa yang

terjadi. Hanya peti kayu tua yang muncul di

halaman rumah, berisi surat yang ditulis dengan

tangan Sari: “Aku pergi demi kamu. Jangan cari

aku lagi.”

Di kamar kecil, sebuah foto usang tergantung—dua

mahasiswa di depan gedung fakultas. Di sudut

kanan, bayangan tak terlihat. Tapi sekarang,

bayangan itu bergerak.