Pria muda dengan nama lengkap Rizal tiba di desa
terpencil setelah meninggalkan kota besar. Ia
membawa surat perintah dari seorang pemimpin
lokal, menyerukan bantuan untuk menyelamatkan
putri raja yang diculik oleh kelompok
pemberontak. Desa itu berada di tengah wilayah
yang dikuasai oleh berbagai pihak: pasukan
Belanda, kelompok kemerdekaan, dan kelompok
lokal yang ingin membangun kerajaan baru.
Rizal mengenakan jubah putih dan berjalan
melewati pasar yang ramai, tempat orangorang
saling berbisik tentang kehadirannya. Ia
disambut oleh tokoh tua yang memegang peta
berlumur darah, menunjukkan jalur tersembunyi
menuju istana yang sudah tidak lagi menjadi
pusat kekuasaan. Di sana, ia menemukan bahwa
putri raja telah hilang selama tiga hari, dan
para penjaga istana kini lebih takut pada
kekuatan baru yang muncul daripada pada otoritas
lama.
Di tengah hujan deras, Rizal memasuki gua di
belakang istana. Di dalamnya, ia melihat seorang
wanita berpakaian tradisional sedang duduk di
atas batu, dikelilingi oleh dua orang pria
bersenjata. Salah satunya menatapnya dengan mata
yang terlihat kosong, seperti tidak percaya
bahwa ia benarbenar ada. Rizal berdiri tegak,
tangan di samping tubuh, dan berkata, "Aku
datang untuk menyelamatkanmu."
Wanita itu mengangkat kepala, matanya menyapu
wajah Rizal, lalu mengangguk. Dalam satu gerakan,
salah satu pria menarik senjata, tapi Rizal
menendangnya ke luar gua. Dia mengambil pisau
dari saku jubahnya, menghunusnya ke arah pria
lain, yang langsung jatuh ke tanah.
Saat itu, suara ledakan menggema dari luar gua.
Rizal berlari keluar, melihat api yang menyala
di sekitar istana. Pasukan pemberontak telah
menyerbu, menghancurkan semua yang pernah
menjadi simbol kekuasaan lama. Di antara
kekacauan, ia melihat putri raja berlari menuju
hutan. Ia mengejar, menggandeng tangan wanita
itu, dan keduanya menghilang di balik semaksemak.
Hari berikutnya, berita tentang penyerbuan
istana menyebar ke seluruh desa. Pihak berwenang
menganggap Rizal sebagai pemberontak, sementara
kelompok kemerdekaan menganggapnya sebagai agen
lama. Namun, di balik kabut perang, putri raja
ditemukan di sebuah dusun kecil, ditemani oleh
Rizal yang kini menjadi bagian dari cerita baru.
Di sana, ia mengajar anakanak desa,
memperkenalkan mereka pada nilainilai baru yang
tidak lagi terikat pada kerajaan lama. Ia tidak
lagi hanya ustadz, tetapi juga pemandu bagi masa
depan yang belum ditulis.


