Desa Karangsari di Jawa Tengah tahun 1982 masih
mengandalkan sumur tua dan sawah tadah hujan.
Listrik hanya menyala tiga jam malam hari.
Orangorang percaya bahwa tanah leluhur punya
ingatan—jika diinjak oleh pengkhianat, padi layu,
ayam mati, dan anak kecil mimpi buruk bersama.
Raden Agung, pedagang kaya dari Semarang, tiba
dengan mobil Kijang biru membawa peti kayu
berisi duplikat pusaka keluarga. Ia bukan datang
untuk nostalgia, tapi pencarian: mencari kotak
tanah dari masa kecilnya yang disimpan
sahabatnya, Mursid, di bawah pohon beringin tua.
Kotak itu konon berisi tanah dari lima kuburan—
tanah yang bisa membuka gerbang warisan leluhur
jika dikembalikan dengan niat suci.
Agung dulunya miskin, anak tukang becak yang
dibesarkan Mursid seperti adik sendiri. Saat
Agung kaya, ia janji bagi hasil usaha toko
bangunan. Tapi Agung kabur ke kota, ganti nama,
dan tak pernah kembali selama dua belas tahun.
Kini ia datang, bukan untuk maaf, tapi untuk
artefak.
Di malam pertama, Agung letakkan uang di depan
rumah Mursid sebagai tanda baik. Pagi harinya,
uang itu sudah jadi abu di pelataran. Ayam
jantan milik tetangga mati mendadak, lehernya
bengkok tanpa luka. Anakanak desa berbisik:
tanah mulai marah.
Agung nekat temui Mursid di sawah. Mursid tak
bicara, hanya tunjukkan arah ke makam ibunya—di
sana, di bawah batu nisan retak, kotak tanah
dikubur. Tapi saat Agung gali, kotak itu sudah
lenyap. Hanya ada jejak kaki basah yang membeku
di tanah kering—jejak yang persis seperti
kakinya sendiri.
Hari ketiga, listrik padam lebih awal. Angin
berhenti. Warga tak bisa tidur. Mereka bermimpi
sama: Agung masuk makam, tangannya hitam, tanah
menjerit. Di tengah malam, seekor pocong dilihat
mengambang di atas sawah—tapi tidak menyerang.
Hanya menatap rumah kosong bekas ibu Agung.
Agung panik. Ia cari kotak ke rumah warga,
geledah lumbung, bahkan injak makam kecil
penunggu desa. Saat itulah hukum tanah menghukum:
langkahnya terasa semakin berat, setiap meter
seperti melawan lumpur hidup. Ia jatuh. Lututnya
tertancap akar kecil yang tumbuh cepat mengekang
daging.
Pagi buta, warga temukan Agung terbaring di
depan mushola, tubuhnya ditutupi daun pisang
kering. Mulutnya ternganga, mata terbuka, tapi
napas masih ada. Di dadanya, tanah menempel
membentuk huruf Jawa kuno: nglanggar. Melanggar.
Mursid datang, bawa air doa dari sumur tua. Ia
tuangkan ke dahi Agung. Tubuh itu langsung
ringan, bisa dibopong. Tapi Agung tak sadar
selama tiga hari. Saat siuman, ia bisu. Hanya
bisa menulis di kertas: Kotak itu aku bakar di
Jakarta. Aku tak percaya tanah. Aku percaya uang.
Warga sepakat: ia boleh pergi, tapi tak boleh
bawa apaapa. Mobilnya ditinggal. Peti kayu
dirusak, isinya dibuang ke sungai. Agung pulang
ke kota naik andong, tanpa uang, tanpa suara.
Di stasiun bus Magelang, sebelum naik bis, ia
berhenti. Menoleh ke arah desa. Dari kejauhan,
asap tipis mengepul dari puncak bukit—seperti
tanah bernapas lega.
Tiga bulan kemudian, toko bangunan Agung
bangkrut. Semua pekerja kabur setelah melihat
kantor terbakar sendiri tanpa api. Rekaman CCTV
hanya menunjukkan bayangan tanah menetes dari
plafon, membentuk wajah tua yang tak dikenal.
Di Karangsari, panen tahun itu melimpah. Tak ada
lagi mimpi buruk. Pocong tak muncul lagi. Tapi
setiap malam Jumat, angin berbisik pelan di
bawah beringin tua—seolah menunggu siapa pun
yang akan mengkhianati tanah dan sahabatnya
sendiri.


