Desa Karangsari, tahun 1983. Musim kemarau

panjang membekukan aliran sungai kecil yang

biasa mengairi sawah. Petani menuai padi lebih

awal, tangannya gemetar bukan karena panas, tapi

karena desasdesus tentang sosok yang tidak

pernah menua di tengah dusun.

Sastro bangun setiap malam saat ayam jantan

belum berkokok. Ia menyiram batang padi dengan

air dari sumur tua, lalu duduk di bawah pohon

aren sambil memandangi rumahnya yang terbuat

dari bilik bambu. Tubuhnya tidak menua sejak

puluhan tahun lalu, meski usianya seharusnya

melebihi tujuh dekade. Darahnya bukan darah

manusia—ia adalah Vampir Purba, keturunan

penjaga gerbang gaib dari zaman Majapahit yang

terlupakan.

Sejak Nostalgia era pembangunan pedesaan dimulai,

dunia mulai kehilangan akses ke alam halus.

Jalur antara manusia dan roh terputus karena

pembangunan bendungan besar dan program

transmigrasi yang mengubah bentang alam. Hanya

makhluk seperti Sastro yang masih bisa merasakan

getaran leluhur—tapi semakin sedikit orang

percaya, semakin tipis pula kekuatannya. Aturan

alam: keberadaan mereka bergantung pada iman

kolektif. Saat keyakinan runtuh, kekuatan pun

menguap.

Sastro menikah dengan Rumi, janda muda dengan

anak tiri dari suami pertama yang tewas

tertimbun longsor. Mereka hidup sederhana,

menjual gabah di pasar mingguan, saling menjaga

dalam diam. Cinta Beda Kasta hadir bukan karena

harta, tapi karena status: ia makhluk abadi, ia

manusia fana. Ia tidak bisa memberi anak. Ia

tidak boleh digigit sinar matahari langsung. Ia

harus minum ramuan kunyit dan daun kelor setiap

subuh agar wajahnya tidak pucat menyeramkan.

Konflik Suami Istri tidak lahir dari amarah,

tapi dari rasa bersalah. Rumi mencium bau anyir

di baju Sastro setelah malam tanpa bulan. Ia

melihat bekas cakaran di lengannya—bekas

pertarungan dengan pocong yang ingin merebut

sawah mereka sebagai wilayah baru. Tapi ia diam.

Ia tahu suaminya berbeda. Ia hanya tidak tahu

sampai sejauh mana.

Suatu pagi, tubuh Sastro tidak bisa bangun.

Cahaya rembulan malam sebelumnya terlalu redup—

salah satu dari dua sumber tenaganya habis. Ia

terbaring lemah, kulitnya mulai keriput,

rambutnya memutih dalam hitungan jam. Rumi

menyadari: suaminya sekarat. Ia menggali laci

tua, menemukan gulungan kain batik berisi ritual

penyatuan darah dari zaman dahulu—cara

satusatunya untuk mentransfer separuh nyawa

manusia kepada makhluk gaib.

Rumi menusukkan pisau dapur ke telapak tangannya.

Darahnya menetes ke bibir Sastro yang kering.

Saat tetesan ketujuh jatuh, angin berhenti. Ayam

jantan berdiri diam. Waktu seolah membeku.

Sastro bangkit—tapi matanya tidak lagi hitam

pekat. Kini bercampur emas, tanda bahwa darah

manusia dan darah purba telah menyatu.

Namun aturan kedua menggigit: siapa yang memberi

darah, kehilangan kenangan terdalam. Esok

harinya, Rumi lupa wajah suaminya saat pertama

kali bertemu. Lupa lagu yang dinyanyikan untuk

anak tirinya. Lupa rasa sayur asem buatan ibunya.

Yang tersisa hanya perasaan hangat saat melihat

Sastro duduk di bawah pohon aren.

Musim hujan datang. Sawah kembali hijau. Anak

tiri Rumi menanam padi perdana hasil persilangan

antara benih lokal dan varietas baru. Sastro

tidak lagi turun malam. Ia duduk di ambang pintu,

memandangi langit senja dengan tatapan

Mengharukan—campuran syukur dan nestapa. Ia

selamat, tapi yang menyelamatkannya kehilangan

bagian dari jiwanya.

Darah di bawah padi bukan hanya tentang panen.

Tapi tentang apa yang kita korbankan agar cinta

tetap tumbuh di tanah yang retak.