Desa Karangsari di era Nostalgia hidup dalam

ritme lama: sumur umum pagi hari, becak pelan,

dan puskesmas satusatunya yang dibiayai proyek

swadaya. Teknologi jarang masuk, tapi radio

transistor menyiarkan lagulagu keroncong dan

pengumuman kelurahan. Warga percaya pada obat

tradisional dan doa. Dunia berjalan lambat,

sampai truk putih tanpa plat masuk malammalam

membawa peti dingin.

Dokter Aditya Pramono pulang setelah delapan

belas tahun menghilang. Ia dulu murid sekolah

kedokteran terbaik dari desa ini, lalu

dikabarkan meninggal dalam kecelakaan

laboratorium di Jakarta. Kini ia muncul dengan

kulit pucat, mata tajam, dan kotak rontgen tua

yang tidak pernah ditinggalkan. Ia tinggal di

rumah tua orang tuanya, yang telah kosong sejak

wafatnya sang ayah, kepala desa terakhir sebelum

reformasi.

Beberapa minggu kemudian, dua mayat ditemukan di

sawah—tubuh utuh tapi organ dalam raib, lubang

dada tertutup rapi seperti bekas operasi plastik.

Tidak ada darah. Tidak ada jejak. Hanya bau

formalin tipis dan sidik jari aneh yang terlihat

di bawah sinar ultraviolet. Polisi setempat

menyimpulkan serangan hantu atau kuntilanak.

Tapi Aditya memindai kulit korban dengan mesin

rontgen portabelnya—dan melihat pola mikrochip

bawah kulit.

Ia sadar: ini bukan pembunuhan biasa. Ini

pengambilan sistematis. Tubuh desa sedang

dijadikan sumber pasokan organ ilegal oleh

jaringan yang menyusup lewat program kesehatan

nasional. Sistem kartu sehat baru ternyata

menyimpan chip pelacak; siapa pun yang mendaftar

bisa dipantau, ditangkap, dan "diproses" saat

tidur. Era Nostalgia yang tampak damai ternyata

dimanfaatkan sebagai selimut—karena warga

percaya pada pemerintah, patuh, dan tak bertanya.

Aditya menggunakan ilmunya untuk membangun alat

pemutus sinyal dari radio bekas dan aki motor.

Ia pasang di atap puskesmas. Malam itu, sistem

jaringan lumpuh. Truk putih muncul lagi—kali ini

membawa lima petugas berseragam dinas kesehatan

palsu, membawa stetoskop berujung jarum suntik.

Mereka mencoba menangkap anakanak yang belum

divaksin. Aditya menghadang.

Pertarungan singkat terjadi di halaman puskesmas.

Ia gunakan sinar rontgen portabel untuk butakan

sementara lawan, lalu aktifkan elektromagnet

buatan sendiri yang merusak chip di tubuh mereka—

membuktikan para pelaku juga terkontrol. Mereka

bukan penjahat, tapi mantan dokter yang otaknya

dimanipulasi oleh sistem pusat.

Di ruang penyimpanan truk, ditemukan daftar nama:

372 warga Karangsari sudah terdaftar secara

paksa. Termasuk nama ibunya yang telah meninggal

dua tahun lalu. Data itu bukan kesalahan—tapi

bagian dari mekanisme: sistem menghidupkan

kembali identitas mati untuk menarik subsidi,

lalu menukar tubuhnya dengan donor.

Aditya membakar server mini di bagasi truk. Api

menjilat dokumen digital dan hard disk yang

menyimpan rekaman operasi diamdiam. Ia lalu

memutar ulang siaran radio desa, menyambungkan

mikrofon ke mesin faks yang diubah—dan

menyiarkan semua bukti ke seluruh frekuensi

lokal. Warga bangun. Mereka datangi puskesmas.

Mereka copot chip dari lengan anak mereka

sendiri.

Keesokan pagi, truk putih hancur di jurang.

Tidak ada yang ditangkap. Tidak ada yang dihukum.

Tapi program kesehatan nasional dibekukan di

Jawa Tengah. Pusat data di Jakarta kehilangan

akses ke wilayah pedesaan selama tiga bulan.

Sistem tidak runtuh—tapi retak. Dan retakan itu

dimulai dari satu desa yang menolak percaya buta.

Aditya menghilang lagi. Rumahnya kosong. Tapi

mesin rontgen tertinggal di ruang tunggu

puskesmas—dengan catatan kecil: “Gunakan hanya

jika lihat bayangan aneh di bawah kulit.”

Ketegangan tidak pergi. Ia bersembunyi di antara

senyum warga yang kini saling pandang dengan

waspada. Dunia sudah berubah: tubuh bukan lagi

milik sendiri, tapi pertahanan dimulai dari

pengetahuan. Dan pengetahuan itu kini ada di

tangan rakyat.