Desa Sumbermulyo, tahun 1982. Musim tanam padi
tiba, kabut pagi masih memeluk atap jerami.
Sumiyati, janda berusia enam puluh dua, bangun
sebelum ayam berkokok. Ia menyiram bunga krisan
di depan rumah—tanaman yang tak pernah layu
sejak lima belas tahun lalu, sejak malam
suaminya hilang di hutan bambu saat operasi
penyusupan Tentara Nasional.
Saat panen pertama, petani menemukan mayat tanpa
kepala di saluran irigasi. Tidak ada catatan
kehilangan, tidak ada laporan polisi dari kota.
Kepala desa memerintahkan penguburan diamdiam
agar tak menakuti warga. Namun Sumiyati tahu:
luka lehernya bersih, seperti digigit sesuatu
yang bukan pisau. Ia mengingat legenda yang
dilarang dibicarakan: wewe, makhluk yang minum
darah dan hanya muncul saat tanah rusak oleh
darah tak berdosa.
Malam berikutnya, kabut datang lebih tebal dari
biasanya. Angin tidak bergerak, tapi daun padi
bergoyang sendiri. Sumiyati meletakkan garam di
ambang pintu, cara yang diajarkan dukun desa
sebelum 1965—sebelum semua ritual dilabeli
khurafat. Garam itu mengeras menjadi kristal
merah menjelang subuh.
Ia mulai menyusun ulang kenangan yang sengaja
dilupakan. Di masa Transisi 1948, suaminya
adalah kurir gerilya yang membawa pesan lewat
terowongan bawah hutan. Dalam satu misi, mereka
menemukan gua dengan dinding berlumut
bertuliskan aksara kuno. Di dalamnya, tubuh
telanjang tertidur dalam cairan bening—makhluk
dengan kulit pucat biru dan mata merah pekat.
Mereka mengira patung. Sampai salah satu tentara
menusuk lengan makhluk itu. Darah hitam keluar,
dan seluruh hutan bergetar. Malam itu, tiga
tentara mati dengan leher robek. Komandan
memberi perintah: bakar gua, tutup mulut, hapus
catatan.
Tapi suaminya tidak ikut membakar. Ia membawa
pecahan batu dari dinding gua—batu yang
berdenyut seperti jantung. Dan ketika bom
Belanda menghujam posisi mereka, ia melihat sang
makhluk berdiri di tengah api, tak terbakar. Ia
menyelamatkan suaminya. Sebagai balas budi,
suaminya menukar nyawanya: darah setiap bulan,
di bawah pohon aren tua.
Sumiyati menemukan tempat itu lagi. Di bawah
akar aren raksasa, tanah longsor memperlihatkan
celah. Udara dingin keluar, bercampur aroma besi
basah. Ia turun dengan obor minyak tanah. Di
dasar, makhluk itu masih hidup—Vampir Purba,
terikat oleh kesepakatan darah yang belum lunas.
Tubuhnya menyusut, tapi matanya masih menyala.
Ia tidak bicara, tapi getaran dari dinding gua
membuat tanah bergetar—tanda bahwa alam tahu ia
ada, dan mulai menurut padanya.
Ia menyadari: kemunculan kembali ini bukan
kebetulan. Krisis pangan nasional, pembabatan
hutan untuk proyek irigasi besar—semua gangguan
itu melemahkan segel alami yang terbentuk dari
doadoa petani dan upacara sedekah bumi. Vampir
Purba tidak butuh teknologi; ia menggunakan
ketidakharmonisan manusia dengan tanah sebagai
jalan masuk. Dunia telah berubah: bukan senjata
atau listrik yang menggerakkan realitas, tapi
keseimbangan antara manusia, roh, dan tanah.
Sumiyati mengambil batu warisan suaminya dari
kotak kayu nangka. Batu itu hangat. Ia kembali
ke gua dengan rencana perang—bukan dengan
senapan, tapi dengan strategi rohani. Ia
mengatur tujuh lilin dari lemak sapi, menuangkan
air sumur tujuh desa, dan meletakkan tujuh helai
rambut anakanak desa yang lahir di musim hujan—
darah baru yang belum ternoda. Ini adalah
serangan balik: mengembalikan simetri alam
dengan korban sukarela.
Dalam ritual tengah malam, ia memecahkan batu.
Suara gemuruh mengguncang lereng. Akarakar pohon
bergoyang seperti ular. Vampir Purba berteriak
tanpa suara—tubuhnya mulai menguap. Ia tidak
bisa bertahan tanpa fondasi ketidakadilan.
Perjanjian darah putus karena pengorbanan yang
adil mengalahkannya.
Pagi tiba. Kabut lenyap. Padi tumbuh tegak,
lebih hijau dari biasanya. Sumiyati duduk di
beranda, napas pendek, tangan gemetar. Ia tidak
mati—tapi usianya terasa seratus tahun lebih tua.
Anak cucunya menemukannya tertidur di kursi
bambu, bibir tersenyum tipis. Di tanah di bawah
kakinya, bunga krisan mekar putih bersih—yang
pertama kali dalam dua dekade.
Gua tertutup kembali oleh tanah yang runtuh
alami. Tidak ada yang mencari. Desa kembali
tenang. Tapi setiap bulan purnama, petani tua
masih meletakkan sesajen kecil di pohon aren—
bukan untuk roh, tapi untuk ingatan akan
perempuan yang mengalahkan bayangan dengan
strategi tanah dan air mata.


