Di sebuah rumah besar di desa Cibadak, tahun

1982, Siti Aminah, seorang penulis fiksi muda

dengan impian untuk menulis novel romantis,

duduk di meja kayu usang di ruang baca

keluarganya. Keluarga bangsawan itu masih

memegang kekuasaan tak resmi di wilayah itu,

meski negara telah berkembang menuju modernisasi.

Tapi tradisi dan hukum lama masih mengalir dalam

darah mereka, termasuk dalam ritual pernikahan

kontrak yang diwariskan dari leluhur.

Suatu malam, saat ia mencoba menyelesaikan

naskah baru, tibatiba tubuhnya mulai bergetar.

Kulitnya menghitam seperti arang, rambutnya

tumbuh cepat, dan suaranya berubah menjadi suara

lantang yang tidak asing baginya—ia mendengar

suara ibunya, Nyi Gusti Rahayu, yang sudah lama

meninggal. Ia menyadari bahwa dirinya sedang

mengalami transformasi fisik, sebuah proses yang

hanya terjadi pada keturunan keluarga bangsawan

yang memiliki hubungan dengan roh leluhur.

Ritual itu disebut "Pergantian Roh" dan hanya

bisa dihentikan jika ia menemukan buku kuno yang

hilang dari perpustakaan keluarga. Buku itu

dikatakan berisi rahasia tentang kesetiaan cinta

antara ayahnya dan seorang wanita nonMuslim,

yang justru membuat keluarganya diasingkan

selama bertahuntahun.

Siti terus mencari buku itu, tapi setiap

langkahnya dihambat oleh bayangan pocong yang

muncul dari hutan belakang rumah. Pocong itu

adalah penjaga kebenaran, dan hanya akan

mengizinkan siapa pun yang membuka kunci masa

lalu keluarga tersebut.

Di tengah pencarian, ia menemukan surat lama

yang ditulis oleh ayahnya, yang menyatakan bahwa

ia rela mengorbankan nama baik keluarga demi

melindungi istri dan anakanaknya dari fitnah.

Surat itu juga menyebutkan bahwa buku kuno itu

disembunyikan di bawah lantai ruang tamu, tempat

dimana para leluhur sering berkumpul.

Dengan bantuan neneknya, Siti berhasil menemukan

buku itu. Saat ia membuka halaman pertama,

transformasi fisiknya berhenti. Tapi ia

menyadari bahwa dirinya kini telah menjadi

penghubung antara dunia manusia dan roh leluhur,

sebuah tanggung jawab yang tak bisa ia hindari.

Malam itu, ia memutuskan untuk menulis kisah

keluarganya sebagai sebuah novel, bukan hanya

untuk mengabadikan masa lalu, tetapi juga untuk

menyelamatkan masa depan. Dengan penulisannya,

ia mengakhiri kutukan silam dan membuka jalan

bagi generasi mendatang.

Di akhir cerita, ia duduk kembali di meja baca,

kini dengan kulit putih dan suara tenang, siap

menulis kisah baru yang akan menginspirasi

banyak orang.