Desa Cipageran, 1992. Udara pagi masih kental

dengan aroma sambal terasi dan suara ayam jago

dari kandang bambu. Ibu Surti pulang dari sawah,

sarungnya basah lumpur, saat melihat asap hitam

naik dari balai desa. Seminggu sebelumnya, truk

militer lewat tanpa izin, bocor cairan hijau

dari tangki retak. Hewan ternak mulai menggila.

Anjing menggigit kucing, lalu kambing, lalu

tetangga. Satu per satu jatuh, bangkit lagi

dengan mata keruh dan gigi tajam. Dunia berubah:

orang mati tak bisa tinggal mati. Tanah kuburan

pecahpecah. Wabah zombi bukan film Barat—ini

nyata, lambat, tapi pasti menjilat seluruh dusun.

Ibu Surti menyelamatkan diri ke gudang padi tua.

Di antara karung kosong, ia temukan bayi baru

lahir, dibungkus kain jarit ibunya yang sudah

menjadi mayat bergerak. Bayi itu tidak menangis.

Tidak demam. Tidak terinfeksi, meski disusui

darah ibunya yang sudah bangkit. Rumus lama

hancur: virus tak menyentuhnya. Anak ini—takdir

atau kutukan—hidup sebagai pengecualian mutlak.

Kabar tentang bayi ajaib merembes. Pak Lurah,

dulu pejabat kecil yang gemar korupsi beras

rakyat, kini jadi pemimpin sementara. Ia pakai

situasi untuk konsolidasi kekuasaan. Mengklaim

bahwa bayi itu hadiah dari langit, harus

dikurbankan agar Tuhan menghentikan wabah.

Ritual digelar di lapangan bola, api besar

disulut malammalam. Tapi api tak membakar bayi.

Kulitnya dingin. Api malah padam sendiri.

Orangorang mundur. Takut. Iri. Dan Pak Lurah?

Licik. Ia ubah narasi: bayi itu bukan anugerah,

tapi sumber wabah. Harus dikubur hiduphidup.

Ibu Surti kabur ke hutan pinus. Membawa bayi di

gendongan daun kelapa. Malam gelap. Suara

jeritan dari kejauhan—zombi menyerang pos jaga.

Ia sampai di bekas kapel tua, tempat pendeta

biasa berdoa. Di sana, ia lihat bayi tertawa

pertama kali. Senyumnya memantulkan cahaya bulan

seperti kristal. Ia sadar: anak ini bukan hanya

kebal. Ia menarik zombi. Menarik mereka. Seperti

magnet. Tapi bukan untuk dimakan—mereka berlutut.

Berhenti. Berdiri diam di sekeliling kapel,

seperti menjaga.

Pak Lurah datang dengan parang dan obor. Bawa

lima pengikut setia. Ingin habisi bayi dan rebut

simpati rakyat. Tapi saat ia ayunkan parang,

seluruh zombi di hutan—puluhan, mungkin ratusan—

berbalik arah. Langkah serempak. Mata membidik

satu titik: Pak Lurah. Ia lari. Terjatuh.

Dikerumuni. Tapi mereka tidak menggigit. Hanya

menatap. Lalu, perlahan, satu per satu berlutut.

Termasuk zombi yang dulunya istrinya sendiri.

Subuh tiba. Kabut tipis menyelimuti kapel. Ibu

Surti duduk bersila, bayi di pangkuan.

Zombizombi itu berdiri di luar pagar, diam,

seperti pasukan yang menunggu perintah. Tak ada

yang tahu apa artinya. Tapi aturan dunia baru

telah ditulis: kematian bukan akhir, kekuasaan

bukan milik yang licik, dan harapan bisa lahir

dari rahim yang sudah mati. Ibu Surti menutup

mata. Ia bukan pejuang. Bukan nabi. Tapi hari

ini, ia adalah satusatunya manusia yang masih

percaya pada damai.