Desa Sumbermulyo, Jawa Tengah, 1983. Pagi buta
diiringi derik gerobak sayur. Kain sarung
digulung rapi di bawah tikar pandan. Bapak
bangun lebih awal dari ayam jantan, mencuci muka
dengan timba air sumur, lalu duduk di beranda
menghitung uang receh—cukup untuk ongkos becak
ke kota dan sepotong tahu goreng untuk anak
sulung. Ibu menyusui bayi di dalam kamar reot
berdinding anyaman bambu, lampu minyak masih
menyala redup. Udara lembap membawa bau tanah
basah dan sisa asap kayu.
Suatu Senin, langit tidak lagi biru polos.
Garisgaris transparan muncul di udara, seperti
layar kristal hanya terlihat oleh beberapa orang.
Di atas kepala setiap warga, angka melayang:
skor hidup. Awalnya dianggap gila, sampai Pak
Lurah jatuh tersungkur saat angkanya menyentuh
nol. Skor turun karena dosa sosial: berbohong,
malas bekerja, durhaka pada orang tua. Naik
karena kerja keras, sedekah, shalat tepat waktu.
Sistem ini bukan mesin, bukan sihir—tibatiba
begitu saja ada, seperti hukum alam baru. Dunia
berubah mekanismenya: moralitas jadi sistem game
yang terukur, otomatis, tak bisa dibohongi.
Bapak punya skor 42. Anak pertama sakit panas
tinggi sejak tiga hari. Obat di puskesmas habis.
Dokter bilang butuh suntikan mahal. Uang
tabungan hanya cukup untuk biaya transportasi
pulangpergi. Ia menawarkan tenaga ke proyek
bendungan, tapi penjaga lapangan menolak—skornya
di bawah 50, dianggap “tidak bisa dipercaya”. Ia
coba pinjam ke rentenir, tapi sang rentenir
menolak dengan tawa: “Skormu jelek, nanti mati
duluan, siapa yang bayar?”
Malam itu, ia berjalan kaki 15 kilometer ke kota.
Melewati jembatan rusak, menyeberang sungai
dengan rakit tua. Di terminal bis antarkabupaten,
ia melihat poster pemerintah: Program Nasional
Pemulihan Skor. Warga dengan skor rendah bisa
ikut misi penyelamatan—bantu korban banjir di
daerah hilir, dapat bonus +20 poin dan akses ke
obat darurat. Daftar ditutup esok pagi.
Ia mendaftar dengan tangan gemetar. Diterima.
Diberangkatkan subuh dengan truk militer. Selama
tujuh hari, ia menggali lumpur, membagi makanan,
mengevakuasi neneknenek dari rumah terapung.
Skornya naik pelan: +2 untuk gotong royong, +3
untuk menolong balita hanyut, +1 untuk menahan
marah saat disumpahi warga. Total akhir: +17.
Skor barunya: 59.
Pulang, ia langsung ke puskesmas. Menyerahkan
kartu misi dan skor. Petugas menyerahkan kotak
obat lengkap. Bayi sembuh dalam empat hari.
Tapi sistem mulai menagih harga. Saat Ibu
menyembah di depan meja kecil dengan foto Bapak
Proklamator, skor Bapak turun drastis—10 poin.
Ternyata sistem menganggap ritual itu
“penyimpangan spiritual” karena tidak terdaftar
dalam aplikasi resmi Agama Digital. Skornya
kembali ke 49.
Ia tidak marah. Ia duduk di bawah pohon kelapa,
memandang langit. Lalu pergi ke mushola. Shalat
Jumat berjamaah. Membantu pengurus masjid
bersihkan karpet. Memberi makan anak yatim. Skor
perlahan naik. +5. +3. +2.
Di penghujung minggu, ia duduk di samping Ibu.
Bayi tertidur di pangkuannya. Angka di atas
kepala mereka berdua: 56 dan 54. Tidak sempurna.
Tidak aman. Tapi masih bernyawa. Masih bersama.
Cinta mereka tidak pernah muncul sebagai skor.
Tapi setiap kali Bapak menahan batuk agar bayi
tidak terbangun, atau Ibu menyisihkan nasi demi
tabungan sekolah anak sulung, garis tipis cahaya
merah muda samar muncul di antara mereka—hanya
sekali, sebentar, lalu lenyap. Sistem tidak bisa
mengukur itu. Dan tidak pernah bisa menghapusnya.
Dunia tetap berjalan dengan skor. Tapi di
Sumbermulyo, ada satu hal yang lolos dari sistem:
kelembutan yang terus hidup tanpa poin.


