Desa Tengger di lereng Bromo masih memelihara
upacara Kasada saat musim kemarau tiba. Di
tengah ritual, tanah retak membuka gua bawah
tanah berdinding aksara Kawi—naskah Rajapurusa
tertulis di kulit kayu yang tak lapuk dimakan
waktu. Penemunya seorang penulis muda bernama
Bayu, yang selama ini hanya menulis cerita cinta
murahan untuk majalah daerah. Ia membawa pulang
gulungan itu setelah petir menyambar pohon
beringin tua tepat saat ia berdoa di batu
megalitik.
Zaman klasik di Jawa Timur tidak lagi sekadar
masa lampau—sejak naskah dibaca, setiap orang
yang berdarah kerajaan mulai bermimpi tentang
mahkota yang hilang. Dunia nyata dan alam
leluhur bersinggungan: sawah berubah jadi
benteng pasir purba pada dini hari, lalu kembali
normal saat fajar. Hukum alam terganggu—hujan
turun dari langit kering, ayam jantan berkokok
mundur sesuai arah matahari.
Bayu menulis ulang kisah dalam naskah sebagai
fiksi, tapi tiap kalimat yang ia tulis menjadi
kenyataan esok harinya. Ia menciptakan tokoh
putri yang jatuh cinta pada penggembala—cinta
beda kasta yang dilarang hukum adat—dan
keesokannya, warga desa menemukan patung dua
manusia saling berpandangan di tengah persawahan,
wajahnya mirip penduduk asli yang tak pernah
menikah. Patung itu meneteskan air mata garam
setiap maghrib.
Kekuatan itu bukan tanpa aturan: setiap kali
Bayu menulis darah, seseorang benarbenar terluka.
Saat ia menulis kematian sang penggembala karena
panah tradisi, tetangganya yang cacat sejak
lahir—keturunan adipati kecil—tibatiba meninggal
dengan luka tembus dada seperti tertusuk tombak
kayu. Warga mulai takut. Mereka menyebut Bayu
danyang palsu, penista alam.
Putri dari garis keturunan Mataram yang tinggal
di Yogyakarta datang setelah mimpi berulang
tentang mahkota berdarah. Ia tidak bicara, hanya
menyerahkan kotak kuningan bersegel darah kering
kepada Bayu—bukti bahwa takhta darah hanya bisa
dipulihkan lewat pengorbanan sukarela dari dua
kasta berbeda. Malam itu, Bayu menulis akhir:
sang penggembala dan putri mati berpelukan di
atas tanah merah, jantung mereka menyatu dalam
bentuk pohon dadap yang mekar di musim kering.
Esok pagi, semua patung lenyap. Hujan berhenti.
Naskah Rajapurusa hangus sendiri di meja tulis,
meski tak ada api. Bayu ditemukan bisu,
tangannya penuh goresan hitam seperti tinta
kering menyerap ke kulit. Ia tak pernah menulis
lagi. Desa kembali tenang, tapi pada malam bulan
purnama, suara getih wayang terdengar dari arah
gua—tanpa dalang, tanpa layar, hanya bayangan
raksasa yang menari di tebing.


