Desa Karangsari, 1947. Perang belum usai, tetapi

tanah sudah mulai menolak damai. Pria bernama

Bayu kembali dari garis depan dengan tangan

kosong dan dada penuh debu pertempuran. Ia bukan

pejuang resmi, hanya sukarelawan yang tersesat

di antara dua front Belanda. Desanya kini dijaga

oleh milisi setengah resmi, tetapi kekuasaan

sebenarnya berada di tangan rohroh yang tidak

terlihat—makhluk yang bangkit karena tanah

dibajak tanpa ritual.

Kehadiran Bayu mengganggu keseimbangan. Ia

datang membawa surat dari mantan kekasihnya,

Surti, yang konon meninggal saat pengungsian.

Tapi surat itu palsu—ditulis tangan mirip, tapi

bahasa asing di bagian doa penutup. Ia tidak

menyadarinya. Ia hanya ingin menemukan makam

Surti, mempersembahkan bunga kering dari medan

tempur. Namun, nenek moyang suku setempat—yang

selama ini hanya hidup dalam larungan sesaji—

mulai muncul secara fisik: bayangan tua berjubah

anyaman daun mendekati sumur tiap subuh,

menatapnya tanpa bicara.

Tradisi mengatakan arwah leluhur hanya akan

turun jika darah keturunan terancam. Tapi tidak

ada yang mati. Hingga Bayu menemukan kuburan

ganda di balik rumpun tebu—satu batu nisan

bertuliskan namanya sendiri, tanggal kematiannya:

bulan depan. Di sampingnya, nisan Surti, tapi

dengan nama lahir: Dewi Ayu. Bayu tak pernah

tahu Surti berganti nama. Ia tak tahu pula bahwa

wanita yang dicintainya adalah jelmaan

kuntilanak yang ditipu oleh janji nikah palsu

dari komandan Belanda tahun 1938—janji yang

membuatnya melahirkan anak di gua, lalu

digantung di pohon jati oleh penduduk desa

karena dianggap hamil tanpa suami.

Penipuan cinta itu menjadi pusat kutukan. Darah

Surti tidak bisa tenang karena janji yang

dilanggar oleh manusia—dan oleh alam. Karena

itulah, era Klasik di sini bukan sekadar latar,

tapi mekanisme dunia yang berubah: waktu tidak

linear. Masa kolonial, masa revolusi, dan masa

depan saling tembus melalui celah di tanah yang

retak akibat peluru dan amarah. Orang mati bisa

hidup lebih lama dari orang sehat. Bayu

menyadari bahwa Surti yang ia cintai bukan

manusia—tapi perwujudan dendam yang menggunakan

kenangan sebagai umpan.

Ia mencoba menghentikan ritual pemanggilan di

malam purnama, saat milisi ingin memanggil arwah

pejuang untuk perlindungan. Tapi nenek moyang

menolak turun—mereka menunggu Bayu. Ia dipaksa

memilih: mengubur Surti selamanya dengan

menghancurkan kalung pemberiannya (simbol janji),

atau membiarkan desa tenggelam dalam mimpi buruk

abadi. Ia memilih menghancurkan kalung. Saat

logam remuk di batu jurang, angin berhenti.

Rumpun tebu rebah tanpa suara.

Pagi berikutnya, semua ingatan tentang Surti

lenyap dari desa—kecuali milik Bayu. Ia duduk di

ambang rumah tua, memandang tanah yang kini

subur dan sunyi. Tidak ada lagi bayangan di

sumur. Tidak ada lagi bisikan. Tapi tanah di

bawah kakinya masih hangat—seperti baru saja

dikuburkan sesuatu yang besar.

Hukum tak tertulis telah digenapi: siapa yang

mengkhianati sumpah cinta di tanah keramat,

jiwanya tidak boleh pulang. Dan siapa yang

mencintai arwah, harus menjaganya agar tak

bangkit lagi. Bayu kini menjadi penjaga—bukan

pejuang, bukan pencinta, bukan juga manusia

sepenuhnya. Ia tinggal di ambang, antara dunia

dan alam lain, satusatunya yang masih mengingat

nama Surti.