Pagi berkabut menyelimuti rel kereta api Rawa
Buntu tahun 1927. Kereta uap jurusan
Batavia–Buitenzorg tergelincir dari jalur
setelah tremor aneh mengguncang tanah—bukan
gempa biasa, tapi celah dimensi yang tibatiba
muncul di bawah gerbong pertama. Dari dalam
puing, seorang pria bangkit tanpa luka serius.
Ia tidak punya dokumen, hanya arloji emas dengan
ukiran asing: "Aether Corp – Final
Iteration".
Di era Klasik Hindia Belanda, waktu adalah
hierarki. Orang Eropa naik kereta khusus;
pribumi dilarang masuk tanpa izin tertulis. Tapi
insiden ini mengganggu urutan itu. Stasiun
ditutup paksa. Polisi KNIL turun tangan, mencari
penyebab kecelakaan—dan satusatunya korban hidup.
Sang pria kabur ke hutan bakau sebelum
interogasi. Di sanalah ia pertama kali merasakan
bisikan dalam darah: suara yang bukan miliknya,
mantra kuno dalam bahasa yang belum pernah
didengarnya.
Ia ternyata bukan hanya pelarian. Tubuhnya
menjadi wadah roh Penyihir Sakti dari zaman
Majapahit yang terperangkap dalam siklus balas
dendam antargenerasi. Roh itu menolak dipanggil,
tetapi hadir lewat mimpi basah, tanaman layu
mendadak, dan bayangan bergerak sendiri di
dinding gua. Setiap kali sang pria menggunakan
kekuatan—membekukan air, membuat akar menjalar
cepat—waktu di sekitarnya bergetar. Jam berdetak
mundur selama tiga detik. Burung terbang mundur.
Ini adalah gejala awal dari runtuhnya mekanisme
linieritas waktu.
Dalam pelariannya, ia menyusup ke desa kecil di
lereng Salak. Warga curiga pada tamu tak
diundang, apalagi saat anak kepala dusun jatuh
sakit setelah menyentuh arlojinya. Menurut adat
setempat, barang dari "waktu yang
salah" membawa
sial. Mereka ingin menguburnya hiduphidup di
bawah batu candi tua. Malam itu, sang pria
memilih kabur—dan secara sadar memanggil
kekuatan sihir untuk pertama kalinya. Akar
keluar dari tanah, merobek pagar bambu. Ia lari,
tapi desa runtuh di belakangnya: atap ambruk
tanpa angin, sumur mendidih, waktu terasa
melompatlompat.
Di tengah hutan, ia bertemu sosok tua yang
mengenal tanda di dadanya—lambang segitiga
terbalik dengan mata di tengah. "Kau bukan
pelarian biasa. Kau titisan CEO Dingin—manusia
yang dulu menciptakan mesin pengatur takdir."
Menurut legenda, CEO itu bukan gelar, tapi
kutukan bagi mereka yang mencoba mengendalikan
nasib manusia lewat teknologi. Di masa depan
yang telah musnah, ia adalah otak di balik
Proyek Aether: sistem yang menyimpan jiwa orang
mati untuk dikendalikan ulang. Tapi sistem itu
gagal. Jiwajiwa memberontak. Dunia runtuh. Dan
roh Penyihir Sakti adalah salah satu yang lolos
dari kontrol.
Kini, tubuh sang pria menjadi medan pertarungan
antara dua kesadaran: logika dingin sang CEO
yang ingin memperbaiki mesin dari dalam, dan
amarah spiritual si Penyihir yang ingin
menghancurkan semua mesin takdir. Setiap kali ia
mencoba mengatur rencana—sembunyi, cari jalan
keluar, hubungi pihak asing—emosi kuno
menyelinap masuk: kemarahan terhadap penjajah,
rindu terhadap tanah leluhur, hasrat untuk
menghukum. Ini adalah bentuk lain dari
ketegangan: bukan hanya fisik, tapi ontologis.
Di puncak Gunung Gede, ia mencapai altar batu
purba. Di sana, celah dimensi terbuka lagi—cara
kembali ke masa asalnya. Tapi roh Penyihir
menolak. Ia memaksa tubuhnya berlutut. Akar
menyeretnya ke pusat lingkaran batu. Cahaya ungu
menyala. Waktu berhenti. Burung beku di udara.
Hujan menggantung.
Sang pria membuat pilihan: tidak lari. Ia
membiarkan roh keluar sepenuhnya. Dalam
prosesnya, arloji emas meleleh. Mesin Aether
rusak permanen. Celah dimensi tertutup dengan
dentuman yang terdengar sampai Bogor. Badai
waktu reda. Pohon tumbuh normal lagi.
Esok harinya, petani menemukan pria itu duduk di
bawah pohon randu, bicara sendiri dalam bahasa
campuran Belanda, Jawa, dan istilah teknik masa
depan. Ia tidak dikejar lagi. Polisi KNIL
menganggapnya gila akibat trauma kecelakaan.
Tapi di malam hari, ketika bulan purnama, ia
bisa membuat api menyala tanpa korek—dan kadang,
jam dinding berdetak lebih lambat dari biasanya.
Waktu tidak pernah sepenuhnya pulih. Dunia mulai
mengalami "selip": orangorang sesekali
melihat
bayangan diri mereka sendiri dari masa depan,
atau mendengar suara radio tahun 1980 di tengah
hutan 1928. Mekanisme alam telah berubah—
liniernya retak. Dan perubahan itu dimulai dari
satu pelarian, satu tubuh, satu konflik antara
dinginnya logika dan panasnya karma.


