Desa Kedungmulyo di lereng Gunung Lawu masih
menjaga tradisi panen raya bulan keenam, meski
listrik jarang menyala lebih dari dua jam sehari.
Warga tua menyebut masa kini datar seperti air
sumur, tidak seperti zaman klasik dulu ketika
batubatu sendiri bisa berbisik dan bayangan
mampu membunuh. Runtuhnya sistem kultivasi tiga
abad silam membuat semua jalur qi padam, para
pendekar menghilang, dan ilmuilmu suci jadi
dongeng untuk menidurkan anak. Dunia baru hanya
mengenal logika dan tanah—sampai Sastro
menemukan altar batu di bawah akar beringin tua,
tertutup lumut dan simbolsimbol yang mulai
berpendar biru saat hujan pertama turun.
Sastro bukan siapasiapa: mantan guru honorer
yang pulang setelah diberhentikan karena protes
gaji. Ia tinggal di gubuk ujung dusun, dekat
bekas makam keramat yang konon pernah menjadi
pusat pelatihan muridmurid Ordo Bulan Terpotong.
Ketika cahaya dari altar merambat ke tanah dan
membangkitkan nisan retak, sebuah tekad gelap
ikut terlepas. Tekanan udara berubah; ayamayam
mati mendadak dengan mata putih berdarah. Ini
bukan serangan biasa—makhluk dengan bentuk awan
hitam dan delapan tentakel cahaya mulai
merangsek dari hutan, menghancurkan pagar bambu
dan membekukan siapa pun yang menyentuh embun
darinya. Serangan monster ini mengikuti pola
lama: mereka mencari tubuh yang cocok untuk
menjadi wadah.
Warga berlindung di balai desa, tetapi beberapa
remaja nekat menyerang dengan arit dan obor.
Mereka hangus dalam kilatan asap ungu. Sastro
menyadari bahwa makhluk itu tidak menyerang
secara acak—mereka menghindari orangorang yang
pernah melakukan pengorbanan nyata: ibu yang
menyerahkan emas kawin untuk biaya rumah sakit
tetangga, pemuda yang membangun jembatan darurat
saat banjir. Aturan lama ternyata masih hidup:
dunia kultivasi tidak kembali begitu saja,
tetapi bangkit hanya bagi mereka yang hatinya
sesuai dengan hukum spiritualitas—pengabdian
tanpa pamrih adalah satusatunya kunci qi yang
tersisa.
Iblis Pencemburu muncul bukan sebagai sosok utuh,
melainkan sebagai resonansi dalam mimpi warga:
ia memperlihatkan kenangan palsu tentang
kemuliaan masa lalu, membangkitkan dendam
terhadap Belanda, Jepang, bahkan saudara sendiri
yang dianggap khianat. Beberapa warga mulai
saling menuduh, menggali senjata karat dari masa
revolusi. Tapi Sastro, yang tidak punya ambisi
dan hanya ingin memperbaiki sekolah rusak,
justru menjadi sasaran utama. Iblis ingin
merusak yang murni—karena hanya yang tanpa
hasrat besar bisa membuka kembali gerbang
kultivasi.
Pada malam purnama, serangan monster mencapai
puncak. Mereka membentuk formasi segi delapan di
atas sawah, memanggil badai petir kuno. Sastro
dipaksa naik ke altar, tubuhnya digerakkan oleh
getaran batu yang mengenal namanya—keturunan
langsung Pendekar Terakhir yang mengorbankan
jiwa demi mengubur Iblis 300 tahun silam. Darah
dari luka kakinya jatuh ke simbol pusat. Cahaya
meledak. Bukan pedang atau mantra yang keluar—
tapi suara gamelan dari masa klasik, melodi yang
dulu mengiringi upacara penyucian.
Melodi itu memaksa Iblis Pencemburu muncul dalam
wujud aslinya: lelaki tua berpakaian
compangcamping, wajahnya mirip tokoh revolusi
yang difilmkan di era Nostalgia, tapi matanya
kosong penuh iri. Ia bukan musuh dari luar—ia
adalah roh nasional yang gagal dimakamkan,
jelmaan amarah kolektif yang tak pernah puas.
Saat cahaya altar menyentuhnya, ia menjerit
bukan karena sakit, tapi karena teringat: ia
dulu rela mati demi tanah air, tapi kini tidak
ada lagi yang mengingatnya.
Serangan monster berhenti seketika. Tubuhtubuh
cahaya menguap seperti embun pagi. Iblis lenyap,
bukan dikalahkan, tapi dilebur oleh ingatan
kolektif yang akhirnya mengakuinya. Batu altar
retak total, dan kali ini tidak ada cahaya lagi.
Dunia kultivasi benarbenar tamat—tidak kembali,
hanya sekali muncul untuk menutup cerita. Sastro
tidak dapat kekuatan. Ia hanya menemukan surat
kuning di bawah reruntuhan: rencana pembangunan
sekolah dari tahun 1952, ditulis tangan oleh
kakeknya, yang juga guru desa.
Keesokan harinya, hujan turun normal. Anakanak
kembali ke ruang kelas bocor. Sastro menempelkan
surat itu di papan kayu, di bawah foto Presiden
pertama. Tidak ada yang bicara soal kejadian
malam itu. Tapi setiap petani yang lewat altar
kini meninggalkan sesajen kecil: telur, rokok
kretek, atau bunga melati. Bukan untuk disembah—
tapi diingat. Zaman klasik telah tutup. Yang
tersisa hanyalah nostalgia yang hidup dalam
tindakan, bukan kekuasaan.


