Jakarta, 1947. Revolusi belum usai, tetapi kota

sudah mati secara perlahan. Bukan karena

serangan Belanda, melainkan sesuatu yang tumbuh

dari dalam tanah bekas kuburan massal di Tanah

Abang. Mayatmayat korban pertempuran tidak

membusuk. Mereka bangkit dengan mata keruh dan

mulut berbusa hitam, bergerak tanpa suara, hanya

menyeret diri mencari daging yang masih hangat.

Dunia berubah: kematian bukan akhir, tapi awal

penularan. Siapa pun yang digigit akan roboh

dalam tiga jam, lalu bangkit sebagai bagian dari

gerombolan diam yang tak pernah lelah.

Kepulauan kecil di utara Jakarta, tempat bekas

vila gubernur jenderal, kini menjadi benteng

sementara bagi para pejabat sipil dan keluarga

pejuang. Di sana tinggal Ratna, mantan selir

seorang komandan yang gugur di Yogyakarta. Ia

tidak diakui secara resmi, tetapi diterima

karena kecerdasannya mengatur logistik dan

membaca peta medan. Ia bukan petarung, tetapi

pengamat. Ia tahu bahwa gerombolan tidak

menyerang saat hujan, bahwa mereka menghindari

bau kapur barus, dan bahwa anak tirinya, Bayu —

putra almarhum dari istri pertama — masih hidup

di ruang bawah tanah bekas penjara politik di

dalam kompleks istana lama.

Zona aman runtuh ketika gerombolan menerobos

tembok timur. Tidak seperti biasanya, kali ini

mereka datang dalam formasi — seperti diarahkan

oleh sesuatu. Api dibakar, mayat dibuang ke

sumur, tetapi anakanak mulai hilang satu per

satu. Malam itu, Ratna melihat sendiri Bayu

diseret ke lorong bawah tanah melalui ventilasi

rusak. Ia tahu misi penyelamatan ini bunuh diri:

tidak ada senjata, tidak ada pasukan, hanya dia

dan sebuah lampu minyak yang redup.

Ia masuk melalui saluran air tua yang buntu di

bawah dapur. Di dalam, dunia gelap dan basah.

Dinding berlumut, lantai retak, dan jejak kaki

kecil tertinggal di lumpur. Ia menemukan

tubuhtubuh pegawai yang dikurung, semua dalam

posisi duduk, mata terbuka, tangan terkatup

seperti sedang berdoa. Mereka tidak mati, belum —

tetapi napasnya lambat, kulit dingin. Virus

tidak membunuh langsung; ia menunggu, menjalar

lewat udara lembap di bawah tanah.

Bayu ditemukan di ruang arsip, terkunci dari

luar, dikelilingi oleh tiga zombi yang berdiri

diam seperti penjaga. Mereka tidak menyerang.

Ratna menyadari: mereka dulunya adalah pengawal

ayah Bayu. Mereka mengenal darah keluarga. Ia

mengoleskan kapur barus ke tubuh Bayu, lalu

merangkak keluar dengan anak itu di punggung,

melewati koridor sempit yang dipenuhi suara

desisan napas dari balik pintupintu baja.

Di permukaan, fajar menyingsing. Kota yang dulu

ramai kini sunyi, hanya ada asap dari reruntuhan

dan suara lonceng Gereja Paulus yang berdentang

sendiri. Ratna menyerahkan Bayu ke tim medis.

Dokter menyuntikkan serum percobaan — hasil

racikan dokter Jawa dari daun cengkeh dan abu

tulang belanda — tetapi tidak ada yang tahu

apakah akan berhasil.

Ratna duduk di teras vila, memandang laut. Ia

tidak merasa lega. Ia tahu gerombolan tidak akan

berhenti. Ia juga tahu bahwa sang raja mayat —

tubuh bekas gubernur jenderal yang dikubur di

bawah kolam — belum sepenuhnya bangkit. Tapi

untuk malam ini, anak itu hidup. Dan ia, seorang

selir yang tak diakui, telah menyelamatkan garis

darah yang lebih penting daripada gelar.

Angin laut bertiup kencang. Lampu minyak padam.

Kegelisahan tidak pergi — ia menetap, seperti

bayangan yang tak bisa ditendang keluar dari

rumah.