Desa Kembang Arum terbakar habis pagi itu, bukan

oleh serangan tentara Belanda, tetapi oleh

ledakan dari dalam bumi. Retakan meliuk di sawah,

mengeluarkan asap hitam pekat yang membuat

burungburung jatuh mati. Penduduk lari, tapi

Surti tidak—ia berlari masuk ke pusat desa,

mencari bayinya yang tertinggal di gubuk bambu.

Gubuk kosong. Bayi lenyap. Hanya gelang kuningan

dengan ukiran naga kecil tertinggal di tanah.

Revolusi 1947 bukan hanya pertempuran senjata,

tapi juga pergolakan alam. Kolonialisme tak

hanya merampas tanah, tapi mengganggu tatanan

spiritual yang menjaga keseimbangan dunia.

Ketika pasukan KNIL menembak sumur keramat di

lereng Merapi, mereka tidak tahu bahwa air itu

adalah penjara bagi entitas zaman Majapahit.

Sejak hari itu, waktu berjalan tidak lurus.

Beberapa orang menghilang selama lima menit,

kembali dengan rambut putih dan ingatan tentang

masa depan. Dunia mulai bergeser: siang bisa

datang dua kali sehari, hantu berjalan di pasar

pagi sebagai pembeli biasa.

Surti, bekas juru masak di rumah priyayi

kolonial, kini menjadi pelarian. Ia tidak punya

senjata, hanya naluri dan pengetahuan tentang

ramuan desa. Ia menyadari pola: anakanak yang

lahir setelah ledakan sumur keramat mudah

diculik oleh bayangan tanpa suara. Mereka dibawa

ke dalam retakan tanah. Ia mendengar bisikan

dari ibuibu tua: satusatunya cara menembus

dimensi lain adalah dengan Artefak Matahari,

benda purba yang konon disembunyikan di kuil

bawah candi Borobudur.

Di Yogyakarta yang porakporanda, Surti bertemu

seorang pemuda bisu yang tinggal di bunker bekas

Jepang. Ia tidak bicara, hanya mengetik di mesin

telex modifikasi yang terhubung ke kabel bawah

tanah. Dari sana, ia memantau getaran waktu dan

frekuensi arwah. Ia adalah hacker misterius—

bukan dari masa depan, tapi dari celah waktu.

Otaknya tersambung ke jaringan energi

geomagnetik pulau Jawa, hasil eksperimen rahasia

Belanda tahun 1938 yang gagal. Ia bisa "

membaca"

jejak emosional di udara, terutama rasa

kehilangan. Ia tunjukkan pada Surti: bayinya

masih hidup, tapi berada di lapisan waktu yang

berbeda, dipegang oleh entitas yang menyamar

sebagai ibu kandung.

Mereka turun ke terowongan bawah Candi Mendut,

tempat peta kuno menunjukkan pintu ke alam

tengahan. Di sana, tanah berdenyut seperti

jantung. Jamur bioluminescent tumbuh di dinding,

menunjukkan tulisan Jawa Kuno: "Barang siapa

membawa anak, akan kehilangan jiwa." Ini adalah

hukum keras alam—bukan peringatan, tapi

mekanisme. Siapa pun menculik anak dari waktunya,

akan dihisap ke dalam badan bumi sebagai

pengganti.

Dalam gua terakhir, Surti temukan artefak:

cakram batu dengan lubang berbentuk matahari

terbit. Tapi di tengah ruangan, entitas berwujud

perempuan tua dengan tiga wajah sedang menyusui

bayibayi yang hilang. Tubuh mereka transparan,

terhubung oleh akar cahaya ke dinding gua. Itu

bukan iblis—tapi penjaga yang rusak oleh

gangguan waktu. Ia butuh darah anak untuk

memperbaiki poros dunia.

Surti menyerahkan diri. Ia potong pergelangan

tangannya, biarkan darah mengalir ke cakram.

Artefak menyala. Waktu berputar mundur lima

belas menit. Ia kembali ke detik sebelum bayinya

diambil. Kali ini, ia tidak lari. Ia ambil

gelang kuningan, letakkan di atas artefak, dan

ucapkan nama anaknya dengan suara parau—

satusatunya kalimat yang keluar dari mulutnya

dalam seluruh cerita: “Raka.”

Tanah berhenti bergetar. Retakan menutup. Hacker

menghilang—mesin telexnya meleleh menjadi pasir

magnetik. Di permukaan, desa tidak pernah

terbakar. Bayi Raka menangis di gendongan Surti.

Langit kembali normal. Tapi di punggung Surti,

bekas luka berbentuk peta Jawa mulai tumbuh

pelan—tanda bahwa ia kini menjadi penjaga baru.

Dunia telah diganti mekanismenya: bukan lagi

manusia yang atur waktu, tapi ibu yang

kehilangan.