Di tengah hujan deras dan suara tembakan di desa
Cirebon, seorang wanita bernama Siti Aisyah
ditarik dari rumahnya oleh sekelompok pria
berpakaian hitam. Mereka membawanya ke gua
tersembunyi di bawah hutan, tempat ritual kuno
dilakukan. Era Transisi 1945–1949 telah mengubah
cara masyarakat menyikapi kekuatan gaib,
menggabungkan semangat nasionalisme dengan mitos
lokal. Ritual ini, disebut "Pembuka Pintu Iblis,
" bertujuan menarik kekuatan supernatural untuk
melumpuhkan pasukan pemerintah.
Siti, tanpa sadar, adalah keturunan penyihir
kuno yang terlupakan. Dalam ritual, darahnya
digunakan sebagai pengorbanan untuk
membangkitkan kuntilanak, makhluk legendaris
yang bisa menghancurkan pasukan musuh. Antagonis
licik, seorang tokoh setempat bernama Pak Slamet,
yang dulu pernah ditolak oleh keluarga Siti
karena latar belakangnya yang tidak terduga,
menggunakan kesempatan ini untuk membalas dendam.
Ia yakin bahwa dengan mengorbankan Siti, ia bisa
menjadi pemimpin spiritual baru yang tak
terbantahkan.
Namun, Siti tidak mudah menyerah. Ia mempelajari
strategi perang dari buku lama milik kakeknya,
yang mengandung rahasia pertahanan alam bawah
tanah. Dengan bantuan seorang petani muda
bernama Rudi, yang tahu jalanjalan rahasia di
hutan, mereka mencoba menghentikan ritual
tersebut. Mereka menemukan bahwa ritual itu
tidak hanya memanggil kuntilanak, tetapi juga
mengganggu keseimbangan dunia nyata—pasukan
pemerintah mulai mendapat dukungan gaib dari
para leluhur.
Pada malam akhir, Siti mempergunakan strategi
perang yang ia pelajari: ia memancing kuntilanak
keluar dari gua dengan suara trompet yang dibuat
dari kulit kerbau. Saat makhluk itu muncul, ia
menabrak batu besar yang dipersiapkan Rudi. Gua
runtuh, menutup akses ke dunia gaib. Pak Slamet,
yang terjebak dalam reruntuhan, mati tertimpa
batu.
Era Transisi mengubah cara masyarakat memandang
kekuatan gaib, memadukan semangat nasionalisme
dengan mitos lokal. Siti, yang selamat, kini
dianggap sebagai pahlawan yang menyelamatkan
desanya. Namun, ia tak pernah lagi mengunjungi
gua itu. Kekuatan biadab yang pernah dihimpun
oleh manusia, kini hanya tinggal kenangan.


