Jakarta 1947, udara panas bercampur debu meriam
dan asap pembakaran desa. Penjara Cipinang retak
oleh gempa kecil, memicu kerusuhan sesaat. Dalam
kekacauan itu, seorang tahanan perempuan
melepaskan borgol dengan patahan besi yang
diselipkan di sela kasur selama dua bulan
diamdiam. Ia bukan narapidana biasa—dulu bekerja
sebagai detektif swasta, menyelidiki
penghilangan warga sipil yang kemudian diketahui
dikorbankan untuk ritual kuno.
Ia kabur melalui saluran limbah bawah tanah,
menghindari patroli KNIL dan gerombolan pemuda
bersenjata bambu runcing. Saat bersembunyi di
bekas rumah kediaman kolonial yang terbakar, ia
menemukan peta tersembunyi di balik lantai kayu—
garisgarisnya tidak menunjukkan jalan, tapi
jalur napas naga menurut ilmu feng shui Tionghoa
yang telah diadopsi para leluhur Jawa sebagai
nadi bumi. Dunia kultivasi bukan dongeng: ada
aliran energi tanah yang bisa dimanfaatkan, dan
para elit feodal serta residu VOC menggunakan
kekuatan itu untuk memperpanjang usia dan
mengendalikan pikiran massa.
Syaratnya biadab: satu jiwa manusia harus
dikorbankan setiap bulan purnama untuk menjaga
aliran kekuatan tetap stabil. Korban dipilih
dari tahanan politik atau anak yatim hasil
serangan lintas desa. Detektif itu sendiri
sempat ditangkap karena mendekati salah satu
situs ritual di lereng Gunung Salak, tempat
tulangbelulang tersusun membentuk lingkaran
sempurna yang memantulkan getaran aneh pada
tengah malam.
Ia melanjutkan pelarian menuju Yogyakarta,
menyamar sebagai tenaga medis sukarela. Di
stasiun kereta Ambarawa, ia melihat seorang
pejabat sipil Belanda yang seharusnya sudah mati
dalam serangan 1946—wajahnya tidak menua,
matanya berkilat seperti kaca basah. Ia
mengikutinya hingga ke sebuah vila terpencil
yang dikelilingi tembok batu purba, di mana akar
pohon beringin tumbuh menembus fondasi seperti
ular hidup.
Dalam penyusupan malam hari, ia menyaksikan
upacara: lima anak desa dibaringkan di atas meja
batu, leher mereka digores secara bersamaan saat
bulan mencapai puncak. Darah mengalir ke saluran
bawah tanah, menyatu dengan tanah. Getaran kuat
membuat daundaun bergetar tanpa angin. Tubuh
para pelaku tidak bergeming—mereka telah
mencapai tahap awet muda melalui kultivasi darah
kolektif. Ritual ini adalah warisan sistemik:
kolonialisme bukan hanya soal kekuasaan politik,
tapi juga eksploitasi spiritual yang diwariskan
dari generasi ke generasi penjajah.
Detektif itu meledakkan sumbat saluran utama
dengan bahan peledak rakitan dari dapur umum
tentara. Aliran energi terganggu. Salah satu
pelaku tua langsung roboh, kulitnya mengkerut
dalam hitungan detik, tubuhnya menjadi kerangka
kering berbalut kulit coklat. Yang lain
berteriak bukan karena rasa sakit, tapi
ketakutan akan kematian yang kini tak bisa
ditunda.
Pasukan TRI menyerbu lokasi setelah menerima
laporan anonim. Tidak semua pelaku tertangkap—
beberapa kabur ke arah barat, membawa manuskrip
kuno. Detektif itu tidak ikut diapresiasi. Ia
menghilang di pasar Gamping, membakar dokumen
identitasnya, karena tahu bahwa sistem korupsi
spiritual ini bukan hanya milik Belanda, tapi
juga bercabang ke kalangan pribumi yang haus
kekuasaan.
Kotakota mulai mengalami gempa mikro setiap
bulan purnama. Petani melaporkan sawah mereka
retak tanpa hujan. Anakanak bermimpi tentang
suara drum dari dalam tanah. Dunia kultivasi
telah goyah, tapi tidak runtuh. Pelarian itu
berhasil, namun harga kebebasannya adalah
kesadaran abadi: kemerdekaan belum lengkap jika
akar kegelapan masih bernapas di bawah tanah.


