Di tengah kota Jakarta yang masih tertutup asap
perang, seorang wanita bernama Rina memasuki
sebuah rumah sakit darurat yang menjadi tempat
perjumpaan antara para pejuang dan pengkhianat.
Ia menemukan dirinya terjebak dalam cinta
segitiga yang melibatkan seorang tokoh
proklamasi, Aditya, dan seorang bekas tentara
Belanda, Hans.
Rina dulu adalah guru di sebuah sekolah di Jawa
Timur, tetapi setelah suaminya tewas dalam
penembakan oleh pasukan kolonial, ia memutuskan
untuk bergabung dengan organisasi rahasia yang
bertugas menyelundupkan senjata dan informasi
penting. Di sana, ia bertemu Aditya, seorang
pemimpin yang penuh idealisme dan tekad untuk
merdeka. Namun, ia juga tak bisa menghindari
Hans, seorang pria yang memiliki kekuatan luar
biasa—ia bisa membaca pikiran dan mengendalikan
emosi orang lain, sebuah bakat yang didapat dari
nenek moyangnya yang dianggap sebagai penyihir.
Cinta segitiga ini bukan sekadar konflik
emosional, tetapi juga permainan besar yang
mempermainkan nasib bangsa. Hans menggunakan
kemampuannya untuk memengaruhi keputusan Aditya,
sementara Rina mencoba menghadangnya dengan
segala cara. Ia menemukan buku lama yang
disimpan di kamar Aditya, buku yang berisi
catatan tentang ritualritual lama yang bisa
mengubah kekuatan manusia. Dalam halamanhalaman
itu, ia menemukan namanama tokoh sejarah yang
dikaitkan dengan mistisisme dan kekuatan gaib.
Tapi Rina tidak bisa melanjutkan hidupnya tanpa
jawaban. Ia memutuskan untuk melakukan sesuatu
yang tak terduga: ia mengajak Hans untuk
melakukan ritual bersama. Dengan bantuan
temantemannya dari organisasi rahasia, mereka
membangun altar di bawah hutan pinus di desa
Cilacap. Ritual ini harus dilakukan di bawah
bulan purnama, waktu ketika kekuatan gaib paling
kuat.
Malam itu, Hans memasuki altar dan mulai membuka
pintu menuju dunia spiritual. Rina mengetahui
bahwa Hans bukan hanya seorang penyihir, tapi
juga makhluk yang dibuat oleh kekuatan gaib yang
sama yang menggerakkan rohroh leluhur Indonesia.
Ia datang untuk menghancurkan Aditya, karena
menurutnya, ideide Aditya akan menghancurkan
kekuatan yang telah ada selama ribuan tahun.
Rina memilih untuk menjatuhkan Hans. Ia
menggunakan mantra yang ia pelajari dari buku
itu, mantra yang bisa memutus hubungan antara
manusia dan kekuatan gaib. Hans jatuh, dan
kekuatannya lenyap. Ia kembali menjadi manusia
biasa, tanpa kemampuan apapun.
Aditya, yang selama ini dipengaruhi oleh Hans,
akhirnya menyadari kebenaran. Ia memutuskan
untuk melanjutkan perjuangan dengan semangat
baru, tanpa campur tangan siapa pun. Rina, meski
kehilangan cintanya, memilih untuk tetap berada
di garis depan, karena ia tahu bahwa perjuangan
ini bukan lagi tentang cinta, tetapi tentang
masa depan bangsa.
Dan di tengah keramaian perayaan kemerdekaan
yang pertama, Rina berdiri di atas panggung,
sambil mengucapkan katakata yang akan selamanya
terukir dalam sejarah: “Kita bukan hanya merebut
tanah, tapi juga jiwa.”


