Di tengah hutan lebat di Jawa Barat, tahun 1947,

seorang gadis bernama Siti, yang masih muda dan

polos, tinggal bersama keluarganya di desa kecil

yang dikelilingi mitos dan legenda lama. Desa

itu dikenal sebagai tempat bersemayamnya rohroh

jahat, termasuk pocong yang sering menyerang

orangorang yang tidak menjaga etika dan

kesopanan.

Siti selalu mengikuti ajaran orang tuanya

tentang penghormatan terhadap leluhur dan agama.

Namun, saat perang kemerdekaan semakin memanas,

para pemberontak dan pasukan Belanda saling

bertempur di sekitar desa. Kehidupan seharihari

terganggu, dan ketakutan mulai merambat.

Suatu malam, saat Siti sedang membantu ibunya

memperbaiki rumah yang rusak akibat bentrokan,

ia mendengar suara gemericik air dari sungai

yang biasanya tenang. Ia menyelinap keluar untuk

melihat apa yang terjadi, hanya untuk melihat

sesosok bayangan gelap yang berdiri di tepi air.

Bayangan itu menyerupai manusia, tapi dengan

mata kosong dan tangan terbuka lebar.

Itu adalah kuntilanak, makhluk yang konon lahir

dari dosadosa besar dan keserakahan. Di era

transisi ini, kekuatan gaib semakin kuat karena

perpecahan dan pembunuhan yang terjadi di

sekitar desa. Kuntilanak itu menyerap energi

negatif dari para penjahat dan pelaku kekerasan,

lalu membangkitkan dirinya kembali.

Ketika Siti pulang, ia menemukan ayahnya

tergeletak di lantai, tertusuk oleh senjata

tajam. Ibu dan adiknya sudah tak sadarkan diri.

Dengan hati penuh rasa sakit, Siti berusaha

menyelamatkan mereka, tetapi kekuatan iblis itu

semakin merasuk ke desa. Orangorang mulai mati

satu per satu, dan kepercayaan pada Tuhan serta

leluhur mulai pudar.

Siti memutuskan untuk mencari cara menghentikan

makhluk itu. Ia mengingat ceritacerita yang dulu

diceritakan neneknya tentang ritual purifikasi

menggunakan air suci dan doa. Meski ragu, ia

berjalan menuju masjid tua yang sudah lama tidak

digunakan. Di sana, ia menemukan kitab lama yang

mengandung mantra lama untuk memanggil arwah

baik.

Dengan tekad yang bulat, Siti melakukan ritual

tersebut di bawah bulan purnama. Doanya menggema

di udara, mengundang arwaharwah leluhur yang

setia kepada agama dan nilainilai moral. Arwah

itu menyerang kuntilanak, dan dalam pertarungan

gaib, makhluk jahat itu akhirnya lenyap,

meninggalkan desa yang berada dalam kekacauan.

Siti sendiri terluka parah, namun ia berhasil

menyelamatkan desanya. Kisahnya menjadi legenda

baru, sebuah kisah tragis yang mengharukan

tentang bagaimana satu wanita mampu mengubah

nasib dalam era yang penuh badai dan pergulatan.