Yuni tinggal di asrama tua FKIP Universitas

Diponegoro tahun 1947, gedung kolonial retak

bekas bentrokan Belanda. Udara selalu lembap,

bercampur asap sisa latihan milisi mahasiswa.

Revolusi belum usai; dosen bolos karena

penahanan, jadwal kuliah berubah tiap minggu

sesuai situasi keamanan. Dunia bergeser—kampus

bukan hanya tempat belajar, tapi markas sembunyi

senjata, tempat sidang rakyat, dan medan

pengadilan sosial instan. Siapa pun yang

dicurigai kolaborator bisa lenyap sebelum subuh.

Yuni, gadis desa dari Pekalongan, datang dengan

surat rekomendasi kepala desa dan kebaya usang.

Polos, rajin shalat Subuh, tidak pernah

memandang lakilaki terlalu dekat. Ia satusatunya

perempuan dari kelasnya yang masih tinggal di

asrama sejak serangan Desember ’46 menghancurkan

blok barat. Malammalam, ia mendengar suara

lesung di halaman—bukan manusia, tapi dentuman

pelan seperti orang menumbuk padi tanpa lesung.

Tidak ada yang percaya, kecuali Pak Tua Jaga,

mantan juru kunci makam desa yang diamdiam

memberinya daun sirih dan kapur.

Suatu pagi, bunga kamboja di taman pusat gugur

semua. Tanpa angin, tanpa hujan. Hanya Yuni yang

melihat akarakar kecil menjalar dari batang

pohon menuju jejak kakinya. Saat ia menyentuh

salah satu kelopak, kilasan muncul: wanita

berkebaya darah, berlari menyebrangi sawah,

membawa gulungan kertas merah putih. Bukan mimpi—

ingatan itu asing tapi nyata, seolah miliknya.

Keesokannya, ketika inspektur Belanda datang

menggeledah kampus, semua mahasiswa berkumpul di

aula. Yuni berdiri di depan, tanpa disadari,

tanah di bawah kakinya retak tipis, membentuk

garis segi delapan kuno.

Kekuatan itu lahir dari darah petani pejuang.

Mereka yang mati tanpa nama di sawah dan hutan

selama revolusi tidak benarbenar hilang—jiwa

mereka melekat pada tanah, menunggu pemanggil.

Hanya perempuan suci—gadis polos yang belum

ternoda nafsu dan belum meninggalkan adat—yang

bisa menjadi jembatan. Tapi aturan keras

menyertai: jika ia jatuh cinta sejati sebelum

tugas selesai, kekuatan akan menghisap jiwanya

sebagai bayaran.

Di ruang baca, Yuni menemukan catatan lama di

balik lemari buku: sketsa peta kampus dengan

titiktitik merah, tulisan tangan mahasiswi 1945

yang hilang setelah membakar arsip KNIL. Di

sudut, tertulis nama: “Sri Wulan.” Saat ia

menyebut nama itu dalam hati, bunga kamboja

kembali tumbuh dalam hitungan detik. Ia kini

bisa merasakan denyut bawah tanah—jejak orang

yang berbohong, yang membawa senjata, yang

menyimpan dendam. Rektor diamdiam memintanya

membantu mengungkap matamata.

Tapi kemudian Raka muncul—mahasiswa baru dari

Yogyakarta, anak pejuang yang kakinya pincang

karena granat. Ia tenang, sering duduk di bawah

pohon kamboja, membaca syair Chairil. Yuni

merasa dadanya sesak tiap kali melihatnya. Ia

mencoba menjauh, puasa dua hari, pergi ziarah ke

makam pahlawan. Tapi bumi merespons: pohon

tumbang sendiri memblokir jalannya pulang, akar

menyeret kakinya ke taman yang sama.

Pada malam bulan purnama, tanah membuka celah

kecil di tengah taman. Dari dalamnya muncul topi

tentara TRI yang sudah lapuk. Raka mengambilnya—

ia mengenal topi itu milik ayahnya. Yuni

menangis, tanpa suara. Akar keluar dari kakinya,

menyatu dengan akar pohon, dan untuk pertama

kalinya, suara ribuan orang bergema: jeritan,

doa, lagu “Indonesia Raya” versi belum sempurna.

Kekuatan bukan miliknya—ia hanya wadah. Tanah

bicara karena rakyat tak pernah benarbenar diam.

Ia memilih tidak menyentuh Raka lagi. Pagi

harinya, ia menulis surat untuk dipublikasikan

di majalah kampus: “Yang Mati Tak Pernah Lupa.”

Ia menyerahkan semua yang dilihatnya—namanama,

lokasi senjata, nama matamata—lalu pergi ke

stasiun tanpa pamit. Saat kereta berangkat,

bunga kamboja di taman kampus kembali gugur.

Tapi kali ini, angin bertiup lembut dari utara,

membawa kelopakkelopak itu ke arah desadesa.

Raka membaca surat itu di bawah pohon. Ia

tersenyum. Di tanah di bawahnya, tunas kecil

mulai tumbuh—kamboja putih, yang tidak pernah

ada sebelumnya.