Perempuan itu pulang ke desa leluhur setelah

bertahuntahun menulis novel romantis di Jakarta,

hidupnya kosong meski namanya terkenal. Trauma

kematian ibu dalam kebakaran rumah tahun 1998

masih menggantung di tiap halaman yang

ditulisnya — cerita cinta selalu gagal di bab

sepuluh. Ia membawa naskah terakhir, belum

selesai, tentang perempuan yang hilang selama

revolusi.

Desa tempatnya lahir berubah pelan sejak ia tiba.

Hujan tidak turun seperti biasa. Pohon aren yang

dulu tumbang tahun 1972 kini berdiri utuh. Warga

mulai bicara tentang "waktu yang kembali

rusak",

tapi tidak dengan katakata — mereka hanya

menunjuk ke arah makam tua yang tibatiba retak

tanpa gempa. Perempuan itu merasa disorot, bukan

oleh orang, tapi oleh tanah itu sendiri.

Di sudut halaman belakang rumah warisan, ia

temukan sumur kering yang tidak ada dalam

ingatannya. Saat malam, angin berputar melawan

arah mata angin dan suara gamelan samar

terdengar dari dasar sumur. Ia turun, membawa

senter dan naskah. Di kedalaman tujuh meter,

dinding bata menunjukkan ukiran kalender: 17

Agustus 1945, lalu panah ke 20 September, lalu

ke 1 Oktober — tanggaltanggal yang tidak pernah

cocok satu sama lain.

Dunia bergeser. Ia berdiri di tengah ladang tebu

yang terbakar, langit merah bukan karena senja.

Seragam tentara Belanda terlihat di kejauhan,

tapi juga kelompok pemuda bersenjata bambu

runcing. Seorang perempuan muda berlari,

memegang surat, jatuh tersungkur di dekat

kakinya. Ia mengenali wajah itu — sama seperti

fotonya yang hilang dari album keluarga: ibunya,

yang seharusnya lahir tahun 1963.

Waktu di Jawa tidak linear lagi. Setiap kali

perempuan itu menulis satu paragraf di bukunya —

terutama adegan ibu meninggal — realitas

sekitarnya bergetar. Api muncul di tempat yang

tidak seharusnya. Seekor ayam jantan berbulu

hitam berdiri di atas batu, matanya tidak

berkedip. Ia pahami: hukum alam diganti oleh

hukum narasi. Apa yang ditulis bisa menjadi

kenyataan, tapi harus dibayar dengan kenangan

nyata. Menghapus kematian ibu dalam cerita

berarti menghapus semua momen bahagia bersamanya

dari ingatannya.

Ia mencoba menulis ulang akhir naskah: ibu tidak

mati terbakar, tapi kabur ke desa selama

revolusi, menyamar sebagai kurir pejuang. Dunia

bereaksi keras. Malam itu, hujan darah turun

selama tiga jam. Warga desa keluar dengan kendi,

mengumpulkan tetesan untuk upacara adat. Para

tetua berkumpul diamdiam, membakar daun kemuning,

memanggil roh penjaga waktu.

Roh itu datang bukan dalam wujud pocong atau

kuntilanak, tapi sebagai bayangan anak kecil

yang membaca puisi Chairil Anwar terbalik. Ia

menyatakan: sejarah bukan milik individu,

apalagi penulis fiksi. Siapa pun yang mengganggu

Transisi, akan dikembalikan ke titik paling

sakit dalam hidupnya.

Perempuan itu dipaksa mengalami ulang malam

kebakaran 1998 — tapi kali ini, ia berada di

dalam rumah. Ia merasa asap, teriakan, pintu

yang macet. Namun kali ini, ia tidak menyerah.

Ia ingat detail yang selalu disembunyikan dari

tulisannya: ibunya mendorongnya keluar jendela,

lalu kembali ke dalam untuk menyelamatkan sebuah

kotak kayu — isi surat dari masa 1945. Dalam

peti itu, ada nama lengkap kakeknya, yang gugur

di Yogyakarta, dan satu halaman surat cinta yang

tidak pernah sampai.

Ia kembali ke sumur. Membakar naskah terakhirnya

di tepi lubang. Api biru menyala, tanah bergetar,

dan kalender di dinding bata lenyap. Pohon aren

kembali tumbang. Hujan turun normal. Warga tidak

lagi membicarakan waktu yang rusak.

Esok pagi, perempuan itu duduk di beranda,

menulis di buku baru. Kali ini, bukan fiksi. Ia

menuliskan nama kakeknya, perjalanan ibunya

sebagai kurir, dan bagaimana cinta tetap hidup

meski tidak pernah sempurna. Tidak ada plot

romantis. Tidak ada akhir bahagia palsu. Hanya

jejak yang ditinggalkan di tanah Jawa.

Dari kejauhan, ayam hitam berkokok sekali. Lalu

diam selamanya.