Di tengah hujan deras di Malang, 1947, Siti
Rahayu, putri seorang tokoh nasionalis, memasuki
pasar gelap untuk mencari obat bagi ayahnya yang
terluka akibat penembakan militer Belanda. Di
sana, ia bertemu Rudi, preman pasar yang dikenal
ganas namun memiliki aura aneh—tubuhnya berubah
menjadi batu setiap kali marah.
Rudi tidak bisa mengendalikan kekuatannya, dan
satu hari, saat Siti menolak permintaannya untuk
menjual barang warisan keluarganya, ia terkena
serpihan batu dari tangannya. Siti merasa
tubuhnya mulai berubah—kulitnya mengeras,
suaranya bergetar seperti logam. Ia pun memiliki
kekuatan mirip Rudi, tapi lebih kuat.
Kekuatan itu membuatnya menjadi target pihak
Belanda, yang ingin memanfaatkan mereka sebagai
senjata biologis. Namun, Rudi menolak bekerja
untuk mereka. Ia menyelundupkan Siti ke desa
terpencil di Jawa Timur, tempat kekuatan batu
itu bisa dikendalikan.
Siti semakin dekat dengan Rudi, tapi perbedaan
kasta mereka membuat warga desa murka. Mereka
takut pada kekuatan mereka, dan menuduh mereka
membawa penyakit. Suatu malam, ketika Siti
mencoba melindungi Rudi dari serangan warga, ia
terkena luka parah. Tubuhnya mulai retak,
seperti batu yang akan pecah.
Dalam kegelapan, Rudi memberinya pilihan:
meninggalkan desa atau mengorbankan diri untuk
menyelamatkan semua orang. Siti memilih jalan
kedua. Dengan kekuatannya, ia meledakkan batu di
bawah tanah, menghancurkan desa dan menghentikan
serangan Belanda.
Ia mati, tapi kekuatannya tersisa di dalam
batubatu yang berserakan. Rudi, kini menjadi
pemimpin gerilya, terus mencari cara untuk
menghidupkannya kembali. Kekuatan batu itu telah
mengubah dunia—tidak hanya kekuatan fisik, tapi
juga cara manusia memandang kekuatan yang tidak
biasa.
Gelisah tetap menghiasi setiap langkahnya,
karena ia tahu bahwa batu itu masih hidup, dan
mungkin suatu hari akan bangkit kembali.


