Di tengah kota Yogyakarta yang hancur akibat
pertempuran 1946, Siti, seorang penulis fiksi
muda, melarikan diri dari rumahnya setelah
ayahnya dibunuh oleh salah satu kelompok
proIndonesia. Ia memutuskan untuk menyembunyikan
diri di desa pinggir kota, tempat ia bertemu
dengan seorang lelaki tua bernama Pak Rudi, yang
dikenal sebagai penghafal kitab suci dan
penyembuh tradisional.
Pak Rudi memberinya sebuah buku lama berjudul
"Kekuatan Tersembunyi", yang ia klaim berisi
rahasia kekuatan gaib yang bisa membantu
menenangkan jiwa yang terluka. Siti mulai
menulis ceritacerita tentang kekuatan itu, tidak
sadar bahwa tulisantulisannya sedang mengganggu
keseimbangan dunia nyata.
Di desa itu, dua klan besar—Klan Purnawirawan
dan Klan Pemuda Nasional—sedang berselisih
karena perbedaan pandangan soal masa depan
Indonesia. Klan Purnawirawan ingin kembali ke
struktur tradisional, sementara Klan Pemuda
Nasional ingin menjadikan negara baru sebagai
benteng modern. Siti, dengan bukunya, menjadi
korban serangan dari kedua pihak yang mengira ia
adalah agen musuh.
Suatu malam, saat ia sedang menulis di bawah
pohon jambu, kekuatan gaib dari buku itu mulai
merespons. Bayangan pocong muncul, mengikuti
jejaknya. Klan Purnawirawan menuduhnya memanggil
makhluk tak kasat mata, sementara Klan Pemuda
Nasional mengira ia menggunakan sihir untuk
menghalangi kemajuan mereka.
Siti dipaksa memilih: meninggalkan desa atau
menghadapi konsekuensi yang bisa menghancurkan
hidupnya. Dalam keputusan terakhirnya, ia
membakar buku itu di tengah lapangan desa,
mengakhiri kekuatan gaib yang ia tidak mengerti.
Api menyala, dan bayangan pocong lenyap.
Ketegangan antar klan berakhir dengan gugurnya
pemimpin Klan Pemuda Nasional, yang tewas dalam
serangan balasan. Klan Purnawirawan mengambil
alih kekuasaan sementara, tapi Siti, dengan hati
penuh rasa bersalah, melanjutkan perjalanan ke
Jakarta, menuju masa depan yang tak pasti.
Kekuatan tersembunyi telah hilang, tapi bekasnya
tetap ada.


