Di tengah kekacauan Revolusi Kemerdekaan

Indonesia tahun 1947, seorang wanita muda

bernama Siti, yatim piatu sejak usia tujuh tahun,

tinggal di sebuah desa terpencil di Jawa Barat.

Ia dibesarkan oleh pamannya, seorang tokoh

setempat yang sering berbicara tentang masa lalu

kolonial dan perjuangan para leluhurnya. Suatu

hari, Siti menemukan surat lama di antara

barangbarang paman, surat yang ditulis dengan

tinta hitam dan bercap tulisan "Ketika cinta

berdarah".

Surat itu menyebutkan nama dua orang: seorang

perwira militer Belanda dan seorang guru sekolah

lokal yang kemudian menjadi tokoh gerakan

kemerdekaan. Dalam hati, Siti merasa bahwa ini

bukan sekadar cerita biasa—ini adalah ritual

terlarang, sesuatu yang dilarang keras oleh

paman dan warga desa. Ia tidak bisa menahan rasa

penasaran.

Malam itu, Siti pergi ke hutan tua di belakang

desa, tempat dimana ritualritual kuno dilakukan.

Di sana, ia bertemu dengan seorang pria

misterius yang mengenakan jubah hitam dan

membawa kantung berisi abuabu. Pria itu

mengenali Siti dari surat yang ia temukan. Ia

adalah keturunan dari guru sekolah yang disebut

dalam surat, dan ia menjelaskan bahwa ritual itu

adalah cara untuk membangkitkan ingatan masa

lalu yang tertutup oleh kebencian dan

perselingkuhan.

Siti diberi pilihan: melanjutkan ritual dan

mengungkap rahasia yang tersembunyi selama

puluhan tahun, atau pulang dan melupakan

semuanya. Ia memilih untuk melanjutkan. Ritual

dimulai dengan pembacaan doa kuno, pengorbanan

bunga kamboja, dan penyembelihan ayam putih

sebagai simbol kesetiaan. Setelah itu, Siti

mulai melihat bayanganbayangan masa lalu: adegan

perselingkuhan antara guru dan perwira Belanda,

serta upaya untuk menyelamatkan anakanak desa

dari pembunuhan massal.

Namun, ritual itu juga membuka pintu ke masa

depan. Siti melihat dirinya sendiri, dewasa,

menikah dengan seorang pemimpin gerakan

kemerdekaan, dan memiliki anak yang berkeinginan

untuk melanjutkan pekerjaan ibunya. Tapi, ia

juga melihat bayangan keluarga yang hancur

karena perselingkuhan dan kebencian.

Dengan air mata mengalir, Siti memutuskan untuk

tidak melanjutkan ritual. Ia kembali ke desa,

membawa kisah yang ia lihat, dan memutuskan

untuk menjadi penulis sejarah. Ia ingin

mengabadikan kisahkisah yang terlupakan,

termasuk perselingkuhan, korban, dan harapan.

Di akhir kisah, Siti duduk di bawah pohon

beringin di desanya, menulis di buku catatan

lamanya. Di sampingnya, ada foto lama pamannya

dan suratsurat yang ia temukan. Nostalgia

mengalir dalam hatinya, tapi kali ini, ia tidak

lagi merasa sendirian. Ia punya cerita untuk

diceritakan, dan ia siap untuk melakukannya.