Pada tahun 1947, kota Semarang masih terpuruk

dalam kekacauan pascakemerdekaan. Seorang

pedagang kaya dari keluarga Tionghoa, Liang Seng,

menemukan kain ajaib di pasar gelap. Kain itu

tidak pernah rusak, bahkan ketika terbakar atau

direndam air. Dia membelinya untuk menghiasi

toko sutra miliknya, tanpa menyadari bahwa kain

itu memiliki kekuatan misterius.

Beberapa hari kemudian, Liang Seng tibatiba

mengalami transformasi fisik: kulitnya menjadi

putih, rambutnya hitam, dan suaranya berubah

menjadi lebih lembut. Orangorang mulai

menghindarinya, takut akan keanehan ini. Dia

mencari sumber kain itu, tetapi penjualnya sudah

hilang. Dalam kepanikan, Liang Seng bertemu

dengan Rina, seorang perempuan Jawa yang bekerja

sebagai penjaga toko di dekatnya. Rina menolak

mengenalnya, karena dia merasa lihat wajah baru

itu seperti pengkhianat.

Rina adalah putri dari seorang pemimpin desa

yang menentang kolonialisme. Dia telah menolak

lamaran dari saudara kandung Liang Seng, karena

perbedaan kasta dan agama. Namun, setelah

melihat transformasi Liang Seng, Rina merasa ada

sesuatu yang berubah di dirinya juga. Dia mulai

merasa tertarik pada pria asing ini, meski harus

berjuang melawan rasa malu dan kebencian yang

dibawa oleh masa lalu.

Dalam sebuah pertemuan rahasia, Rina

mengungkapkan bahwa kain itu adalah warisan dari

nenek moyangnya, yang dulu dipakai oleh para

pejuang untuk menyembunyikan identitas mereka

saat melawan penjajah. Transformasi fisik adalah

hukuman dari tuhan atas siapa saja yang

memanfaatkan kekuatan itu untuk kepentingan

pribadi. Liang Seng harus memilih: tetap hidup

sebagai orang asing, atau kembali menjadi

dirinya sendiri dengan risiko kehilangan

segalanya.

Di tengah kekacauan revolusi, Liang Seng

memutuskan untuk kembali ke bentuk aslinya. Kain

itu dilemparkannya ke sungai, dan di pagi hari,

ia bangun dengan wajah yang sama seperti dulu.

Rina menemukannya di samping sungai, sedang

menangis. Dia mengatakan bahwa dia punya

kesempatan untuk mengubah hidupnya, tapi dia

memilih untuk tetap setia pada akar dan

kebenaran. Mereka berdua tidak bersama, tetapi

dalam hati, mereka tahu bahwa cinta yang benar

tidak pernah berubah.