Desa Karangmangu, 1947. Perang gerilya
melumpuhkan pasokan makanan. Seorang wanita
bernama Surti memutuskan mencari akar kunyit
hutan demi menyembuhkan adiknya yang demam
tinggi. Ia menemukan lubang besar di bawah pohon
beringin tua—tanah retak tanpa bekas galian, bau
anyir seperti darah kering menguar dari dalam.
Saat Surti mengambil batu berpola spiral dari
dasar lubang, kakinya tergores akar tajam. Darah
jatuh ke pusat pola. Batu itu ternyata bagian
dari ritual pemanggil penjaga alam siluman yang
dulu dikubur oleh leluhur untuk mencegah
gangguan makhluk abadi selama masa transisi
bangsa. Kini, dengan darah perempuan asli tanah
Jawa di era pergolakan politik, segel pecah.
Malam harinya, angin tidak berhembus tapi daun
bergerak sendiri. Ayam jantan berkokok tengah
malam lalu mati berdiri. Di tengah sawah,
seorang lelaki tinggi kurus muncul, berjubah
batik lusuh, memakai peci hitam miring. Ia bukan
manusia: gigi taringnya terlalu panjang, tapi
wajahnya cemas, mondarmandir sambil menghitung
jumlah bintang. Ia gagap saat mencoba bicara
pada patung dewa lokal—vampir purba yang
terbangun di dunia baru, kehilangan kekuatan
karena tak ada darah "murni" yang rela
diberikan
secara suka rela.
Karena ritual terlarang itu hanya bisa dibuka
oleh darah wanita di masa transisi nasional,
maka aturan alam pun berubah: dunia manusia dan
dunia lelembut kini saling tembus setiap jam
tujuh malam. Hantu tak bisa menyerang langsung—
hukum alam lama masih mengikat mereka—tapi
mereka bisa membuat kesepakatan. Vampir purba
itu, bernama Tuan Blebak, harus bertahan hidup
tanpa minum darah ilegal, atau akan menguap jadi
debu saat fajar ketiga.
Surti menyadari ia satusatunya yang bisa melihat
Tuan Blebak jelas. Ia memaksanya bekerja sebagai
buruh tani siang hari agar tidak mengganggu
warga. Ia menyuruhnya memakai sarung tebal dan
topi lebar. Tuan Blebak coba menolong: ia siram
tanaman pakai air liur ajaib yang membuat padi
tumbuh cepat, tapi hasilnya padi berbentuk aneh—
berasnya merah seperti darah, tidak layak
konsumsi. Warga curiga. Kepala desa larang Surti
dekati “orang sinting” di gubuk pinggir jurang.
Tekanan memuncak saat Belanda serang pos gerilya
dua kilometer dari desa. Tembakan meriam
mengguncang tanah. Getaran itu memperlebar celah
di bawah beringin. Makhluk lain mulai menjuntai
keluar—tangantangan tanpa tubuh, suara bisik
menyerukan namanama yang belum lahir. Surti
ambil kembali batu spiral, tapi kini harus
ditutup dengan ritual balik: membutuhkan
pengorbanan sukarela dari makhluk luar alam.
Tuan Blebak, yang sepanjang minggu terlihat
kikuk—tertawa terbahak saat digigit nyamuk
(padahal tidak terasa), menangis lihat anak
kecil main layanglayang—akhirnya mengerti arti
pengorbanan. Di jam tujuh malam, saat celah
melebar, ia berdiri di tepi jurang dan
mengucapkan janji: “Aku menyerahkan hak kembali…
demi tanah yang merdeka.” Tubuhnya memudar
perlahan, bukan meledak atau menjerit, tapi
lenyap seperti asap dibawa angin, sambil tertawa
kecil karena sadar topinya jatuh duluan sebelum
ia hilang.
Tanah kembali stabil. Pohon beringin menutup
celah dengan akar baru. Padi aneh di ladang
Surti tidak dipanen, tapi dibiarkan sebagai
monumen kecil. Tak ada lagi suara kokok ayam
tengah malam. Desa kembali tenang, meski kadang
angin berdesir pelan seperti sedang tertawa.
Era transisi terbukti bukan hanya pertaruhan
senjata dan ideologi—tapi juga poros kosmik yang
mengubah hukum alam. Kemerdekaan tak cuma
direbut dari kolonial, tapi juga dirawat dari
gangguan dunia lain. Dan kadang, penyelamat
terakhir bukan pejuang bersenjata, tapi vampir
tua yang belajar cinta tanah air lewat kebodohan
dan tawa.


