Desa Sumbermulyo, era tahun 1980an, hidup dalam

ketenangan khas zaman Nostalgia: listrik hanya

menyala sampai jam sepuluh malam, jemuran kain

batik berkibar di antara pohon rambutan,

anakanak bermain gobak sodor sebelum magrib.

Dunia masih bekerja perlahan, namun terdapat

celah halus—tempat makhluk halus bisa masuk

karena doa yang terlupakan atau niat yang

bengkok.

Sri, satusatunya anak perempuan dari keluarga

petani padi, menjadi tulang punggung setelah

ayahnya lumpuh akibat kecelakaan saat panen.

Sebagai Wanita, ia mengambil alih ritual adat

pemanggil hujan, sesuatu yang dulunya hanya

boleh dilakukan lakilaki tertua. Keputusan ini

mengubah mekanisme spiritual desa: hujan tidak

lagi turun secara alami, melainkan datang

sebagai respons atas nyanyian doa Sri yang tulus—

fenomena baru yang membuat tetua desa bimbang

dan iri.

Di balik kesederhanaan itu, roh penasaran

menjelma: Iblis Pencemburu, bekas dukun desa

yang dulu ditolak jadi pemimpin karena darahnya

dianggap tidak suci. Ia tidak mati, tapi

terperangkap di antara dunia karena hasrat akan

kekuasaan yang tak pernah terpenuhi. Kini, dari

balik bayangan padi yang bergoyang, ia

membisikkan keraguan ke telinga para tokoh

masyarakat—mengadu domba anak muda dengan tuatua,

meracuni simpanan beras dengan mimpi buruk, dan

mengganggu ritual Sri dengan angin dingin yang

datang tanpa awan.

Ketegangan memuncak saat musim kemarau panjang

menyerang. Warga menuntut agar Sri diganti

dengan pemimpin lakilaki, sementara Iblis

Pencemburu menawarkan hujan palsu—deras, tapi

membawa hama belalang. Sri menolak berunding,

maka Iblis menantangnya lewat Duel Takdir: satu

pertemuan di tengah sawah pada malam tanpa bulan,

tanpa senjata, tanpa kata—hanya tekad melawan

dendam.

Duel itu bukan fisik, tapi spiritual. Sri datang

membawa lesung batu milik neneknya, alat untuk

menumbuk padi sekaligus simbol ketahanan

keluarga. Ia menumbuk beras kosong selama tujuh

jam, sambil menyebut nama setiap generasi

leluhurnya. Setiap kali lesung turun, cahaya

kecil muncul dari butiran padi yang retak. Iblis

mencoba menghentikannya dengan angin topan,

hantu pocong, dan suara tangis bayi—tapi Sri

tidak berhenti. Saat padi terakhir hancur,

cahaya meledak, membakar bayangan Iblis hingga

tiada sisa.

Namun kemenangan ini datang dengan harga. Saat

subuh tiba, Sri ambruk—rambutnya telah memutih

semua, matanya tidak lagi bisa melihat dunia

nyata. Ia kini bisa melihat arwah, mendengar

keluhan tanah, menjadi penjaga ambang antara dua

alam. Desa kembali subur, hujan turun tepat

waktu, tapi Sri tidak pernah lagi ikut panen.

Dari situlah tradisi baru lahir: setiap musim

tanam, satu lesung diletakkan di tengah sawah,

berisi beras putih dan daun pisang. Bukan untuk

dimakan, tapi sebagai penghormatan—karena ada

yang tetap menjaga, meski tak lagi disebut nama.

Mekanisme dunia berubah: manusia tidak lagi

hanya bergantung pada cuaca atau adat, tapi pada

keseimbangan antara tekad, doa, dan pengorbanan

yang terlihat maupun tak terlihat. Hujan kini

adalah cermin moral. Sawah adalah medan takdir.

Dan wanita bukan sekadar pelanjut keluarga—tapi

juru selamat yang diamdiam menulis ulang aturan

alam.