Dusun Tengah Mati, tahun 1987, listrik hanya

menyala dua jam malam hari. Warga masih membawa

pelita, mencuci di sungai, dan menanam padi

tanpa mesin. Kehidupan mengalir seperti air yang

tak pernah dibendung, lambat tapi pasti. Di

rumah bata merah yang hampir roboh tinggal Surti,

perempuan dua puluh tiga tahun yang setiap pagi

menyapu beranda sambil menatap jalan tanah yang

menuju stasiun bis. Ia menanti Darmo, kekasihnya

yang pergi ke Jakarta lima tahun silam dengan

janji: "Aku akan kaya, lalu menjemputmu."

Tapi Darmo tak pernah kembali. Surat terakhir

datang dua tahun lalu—kertas compangcamping, cap

pos Jakarta Pusat—yang hanya berisi alamat

kosong dan noda lembab. Surti tetap menunggu. Ia

menolak pinangan Pak Lurah untuk anaknya,

menahan airmata saat temantemannya menikah dan

punya anak. Ia percaya cinta itu abadi, seperti

doa yang dipanjatkan sebelum tidur.

Pada musim kemarau tahun ketiga penantian,

seorang perempuan tua tak dikenal muncul di

pasar desa. Ia tak memakai sandal, rambutnya

putih panjang, matanya kabur. Ia menjual ramuan

dalam botol kaca kecil: “Untuk yang ditunggu

datang cepat.” Orangorang menghindar. Tapi Surti

mendekat. Perempuan tua itu menatapnya lama,

lalu berkata tanpa suara yang terdengar, namun

terasa di dada: “Dia sudah mati. Tapi kau bisa

lihat dia lagi—jika rela bayar harga.”

Surti membeli ramuan itu. Malam harinya, ia

minum air rebusan daun kelor dicampur bubuk

hitam dari botol. Tidurnya gelisah. Saat

terbangun, Darmo duduk di kursi rotan di pojok

kamar. Nyata. Hangat. Senyumnya sama. Ia bilang

terlambat karena macet, tapi kini ia pulang

untuk selamanya. Surti menangis bahagia.

Keesokan hari, Darmo membantu warga memperbaiki

atap mushola. Ia bicara pelan, sopan, seperti

dulu. Tapi tak ada yang menyentuhnya. Anakanak

merasa angin dingin saat lewat dekatnya. Ayam

petelur Pak Sastro mati mendadak setelah Darmo

melewati kandang. Tapi Surti tak peduli. Ia

merasa utuh lagi.

Namun seminggu kemudian, nenek Karjo menemukan

sesajen darah ayam di bawah pohon beringin—bukan

milik desa, bentuknya asing, tulisan Jawa Kuna

tergores di daun pisang. Ia tahu: arwah tak

tenang sedang dikendalikan. Ia datangi Surti,

peringatkan agar hentikan ritual malam. Tapi

Surti marah. Ia tuduh nenek Karjo iri, karena

cucunya ditolak melamar.

Ritual terus berlangsung. Setiap malam Surti

bakar kemenyan, letakkan nasi tumpeng, dan

potong jari kelingking ayam hiduphidup. Darahnya

dioles ke foto Darmo. Bayangan Darmo makin solid.

Tapi badan Surti kurus, matanya cekung, dan

darah keluar dari telinga saat tidur.

Suatu subuh, warga temukan kandang ayam kosong,

semua unggas hilang, tanah penuh cakaran. Saat

hujan deras, petir menyambar pohon beringin.

Dari balik asap, muncul sosok perempuan tua—sama

seperti penjual ramuan—tapi kali ini tubuhnya

lurus, matanya tajam. Ia tarik kalung akar dari

tanah basah, ucap mantra pendek, lalu tanamkan

ke pusat desa. Tanah berguncang.

Malam itu, bayangan Darmo berubah. Ia pegang

tangan Surti, ajaknya ke sungai. Di tepian, ia

tunjukkan cermin air: yang terpantul bukan wajah

Surti, tapi mayat wanita muda dengan mata

terbelalak, mulut berbusa, tubuh busuk di dasar

sumur. Surti menjerit. Bayangan Darmo tersenyum.

Ia bukan Darmo. Ia arwah penipu, disuruh roh

penjaga ramuan untuk mengelabui hati yang rapuh.

Surti pingsan. Esoknya, ia bangun di rumah nenek

Karjo. Bayangan Darmo lenyap. Tapi ingatannya

terpecah. Ia tak tahu mana yang nyata: cinta

yang ditunggu, atau karma yang menagih.

Nenek Karjo larang siapa pun bicara soal ramuan.

Ia bakar semua botol sisa, kubur kalung akar

jauh di hutan. Aturan lama kembali: yang mati

biarlah pergi. Yang hidup harus lanjut.

Desa kembali sunyi. Listrik masih dua jam sehari.

Surti kini duduk di beranda, tapi tak lagi

menatap jalan. Ia rajut selendang untuk anak

yatim. Kadang tertawa sendiri. Kadang menangis

tanpa sebab.

Dan pada malam bulan mati, jika hujan turun,

warga masih melihat dua bayangan duduk di

beranda rumah bata merah—satu duduk, satu

berdiri diam—meski tahu Surti kini tinggal

sendiri.