Desa Sumberjaya, 1976. Tanah merah tumpah dari
pematang sawah setiap musim hujan, dan suara
gema lonceng gereja desa itu kini hanya tinggal
bayangan. Pemerintah pusat sudah menyebut desa
ini "selesai", tapi penduduk masih
hidup dalam
ritme tua: bercocok tanam, membaca alQur’an di
sore hari, dan menyalakan lampu minyak saat
malam tiba.
Pria bernama Arif, yang baru pulang dari jalan
panjang lewat jalur darat Jakarta–Surabaya,
menemukan bayi perempuan tergeletak di antara
batang tebu yang rusak. Kulitnya birubiru
seperti tanah basah. Tak ada tanda identitas.
Hanya satu kalung emas kecil bertuliskan nama
“Sari” dan tiga bulan usia. Arif membawanya
pulang tanpa pikir panjang.
Dalam seminggu, tanaman di ladang keluarganya
mati semua. Kambing jantan berubah menjadi putih
tanpa warna, mati dengan mata terbelalak ke
langit. Tetangga mulai mendengar suara anak
kecil menangis di tengah hutan, meski tidak ada
anak kecil di sana.
Hari ketiga belas, kepala desa datang membawa
surat resmi dari kantor Dinas Sosial Jawa Timur:
“Bayi hilang dari Rumah Sakit Umum Tulungagung
tahun 1948, diduga korban peristiwa Transisi.
Penemuan oleh warga lokal harus dilaporkan
langsung ke pemerintah provinsi.” Arif tidak
melapor. Ia memilih memelihara bayi itu.
Malam hari, Arif membuka kotak kayu lama yang
disembunyikan di bawah lantai. Di dalamnya,
fotofoto hitamputih: perempuan muda berseragam
pelajar, berdiri di depan bangunan bekas markas
milisi Belanda. Wajahnya mirip Sari. Dan di
bawah foto, catatan tulisan tangan: “Anakku yang
dicuri oleh mereka yang ingin menghapus kita.”
Pada malam kedua puluh lima, tanah di depan
rumah runtuh. Di bawahnya, sebuah lubang
terbentuk. Isinya: tiga belas kerangka anakanak,
semua mengenakan seragam sekolah tahun 1948.
Masingmasing menggenggam potongan kain berwarna
merahputih.
Arif menatap Sari yang sedang tidur. Anak itu
menggigil, bibirnya bergetar. Lalu, dengan suara
pelan, ia berkata: “Aku ingat. Aku adalah putri
yang ditinggalkan. Ayahku mati karena mencoba
menyimpan takhta darah.”
Takhta darah bukan istana. Bukan tahta emas. Ia
adalah warisan genetik—keturunan para pejuang
yang dibunuh secara sistematis selama Transisi,
yang dipaksa masuk ke dalam sistem baru.
Orangorang seperti Sari memiliki darah yang bisa
membuat tanah subur kembali, atau membuat tanah
mati dalam sekejap.
Arif melepas kalung Sari. Ia meletakkannya di
atas tubuh salah satu kerangka. Tanah mulai
bergetar. Rerumputan tumbuh lebih tinggi, lebih
hijau. Tapi kemudian, api muncul dari tanah. Api
merah, tidak hangus, tapi menghanguskan semua
hal yang pernah terjadi di desa itu.
Sari lenyap. Hanya sisik kulitnya yang
tertinggal di tanah.
Di pagi hari, desa Sumberjaya tidak lagi ada.
Yang tersisa hanyalah lahan kosong. Sebuah pohon
bambu tumbuh di tengah tanah. Di bawahnya,
sepotong kain merahputih. Dan di ujung pohon,
kalung emas dengan nama “Sari” tergantung.
Masa Nostalgia tetap berjalan. Tapi dunia yang
dulu pernah damai kini tahu: takhta darah tidak
pernah mati. Ia hanya menunggu saat untuk
kembali.


