Pria itu berdiri di ambang kota lama, mata
terpaku pada buku catatan yang ia bawa. Tahun
1978, saat desadesa masih bersih dari kemacetan
dan suara radio menjadi penghubung antar kampung.
Ia tak tahu apa yang menantinya, tapi surat dari
ibunya mengatakan: "Jangan percaya siapa pun
selain dirimu sendiri."
Wanita Mandiri berjalan melewati hutan kecil,
tangannya menyentuh batubatu besar yang dipahat
dengan tulisan kuno. Ritual Terlarang
berlangsung di bawah bulan purnama, di tempat
yang dulu jadi pusat upacara leluhur. Ia tidak
bisa menolak, karena Warisan Keluarga telah
menetap dalam darahnya sejak lahir. Dalam
bayangan lampu minyak, ia membaca doa yang tidak
pernah diajarkan oleh orang tua.
Gelisah mengisi udara. Suara gemericik air dari
sungai yang biasanya tenang kini berubah menjadi
dering ancaman. Di balik semaksemak, bayangan
bergerak. Ia tahu ini bukan mimpi, tapi kenangan
yang terlalu kuat untuk diabaikan.
Dari balik tembok rumah tua, sebuah suara
berkata: "Kau datang untuk meneruskan." Tapi
siapa yang mengatakan itu? Tidak ada orang di
sana. Hanya angin yang berbisik, dan sesuatu
yang terasa lebih tua dari masa lalu.
Ritual dimulai. Ia melemparkan bunga melati ke
dalam api, lalu menaruh tangan di atas tanah.
Batubatu mulai bergetar, dan dari dalam tanah
muncul cahaya biru. Ini bukan lagi era Nostalgia
yang damai. Dunia berubah, dan ia harus memilih:
terima warisan atau menghilang seperti yang lain.
Di akhir malam, ia berdiri di tengah kota,
wajahnya tertutup debu. Ritual telah selesai.
Tapi sesuatu dalam dirinya berubah. Ia tidak
lagi hanya wanita mandiri, tapi penjaga rahasia
yang tak bisa dibagikan. Di sampingnya, satu
aturan baru berlaku: tidak ada yang boleh tahu
tentang ini. Tidak sampai hari esok.


