Di sebuah desa kecil di Jawa Barat, tahun 1985,
Rizal, seorang pria berusia 27 tahun, pulang
setelah bekerja sebagai tukang bangunan di
Jakarta. Ia datang untuk menghadiri acara
khitanan adiknya, tetapi tidak menyangka bahwa
kembalinya akan menjadi awal dari petualangan
gelap.
Ibu tiri Rizal, Siti Rahayu, dikenal oleh warga
desa sebagai wanita dingin dan penuh dendam. Ia
tidak pernah menyukai Rizal sejak ia masih kecil,
karena ia merasa Rizal mengambil perhatian
ayahnya. Setelah suaminya meninggal, Siti mulai
memperlihatkan sisi gelapnya, terutama setelah
ia dituduh melakukan ritual tak wajar di
belakang rumah.
Suatu malam, Rizal mendengar bisikan aneh dari
hutan dekat desa. Bisikan itu seperti menggugah
ingatannya akan masa lalu—ketika ia melihat ibu
tiri menyalakan lilin putih di tengah malam.
Dengan hati berdebar, ia mencoba menelusuri asal
bisikan itu, tetapi hanya menemukan jejak darah
di tanah dan aroma bunga kamboja yang menusuk
hidung.
Tidak lama kemudian, kejadian ganjil mulai
terjadi di desa: hewan mati dalam posisi aneh,
anakanak mimpi buruk tentang kuntilanak, dan
beberapa penduduk menghilang tanpa jejak. Warga
mulai berspekulasi bahwa kutukan dari Siti
sedang beraksi. Rizal, yang dulu selalu menjauhi
ibu tiri, kini harus menghadapi kenyataan bahwa
ia terlibat dalam kutukan tersebut.
Siti sendiri, ternyata, bukan manusia biasa. Ia
adalah keturunan keluarga pengusung kesaktian
dari masa kolonial, yang memiliki kemampuan
untuk mengubah nasib orang lain melalui darah.
Ia menargetkan Rizal karena ia percaya bahwa
darah Rizal adalah kunci untuk membuka pintu
dimensi lain, tempat rohroh jahat bisa masuk ke
dunia nyata.
Pada malam hari ke7, Rizal berhadapan langsung
dengan Siti di hutan. Di bawah cahaya bulan
purnama, ia menemukan bahwa Siti sudah
mengumpulkan darah dari beberapa penduduk desa,
termasuk darah ibunya yang telah meninggal.
Dengan air mata dan amarah, Rizal menghancurkan
altar yang dibuat Siti, mengorbankan dirinya
sendiri untuk memutus kutukan darah.
Dari kejadian ini, masyarakat desa mulai
memperhatikan kembali nilainilai tradisional,
serta hubungan keluarga yang harmonis. Era
Nostalgia yang sempat dipandang sebagai masa
keterpurukan, kini menjadi pelajaran bahwa
kekuatan supernatural juga bisa menjadi cermin
dari kebencian dan ketidakadilan.
Rizal, meski terluka, akhirnya kembali ke desa
dengan hati yang lebih tenang. Ia tahu bahwa ia
tidak akan pernah sepenuhnya lepas dari bayangan
masa lalunya, tetapi ia berharap bahwa kutukan
darah itu sudah selesai.


