Di tengah puingpuing kota Jakarta yang hancur
akibat bencana alam, Siti, seorang wanita muda
berusia 24 tahun, tinggal bersama ibu tirinya,
Rina, yang dikenal keras dan tidak pernah
menyembunyikan hasratnya untuk menguasai
kekayaan warisan suaminya. Setelah kiamat,
sistem ekonomi hancur, dan kekuasaan bergeser ke
kelompok mistis yang mengklaim diri sebagai
pengganti agama.
Siti menemukan sebuah buku lama di rumah
neneknya, yang ternyata adalah kitab suci dari
suku leluhurnya—disebut "Kitab Lintang". Buku
itu mengandung mantra lama yang bisa memanggil
makhluk gaib. Namun, ketika ia mencoba
membacanya, ritual gagal, dan justru
membangkitkan roh jahat bernama Azrail, yang
dulu dipanggil oleh para penguasa kolonial untuk
menghancurkan semangat bangsa Indonesia.
Rina, mengetahui keberadaan buku tersebut,
memaksa Siti untuk memberikannya padanya. Ia
ingin menggunakan mantra itu untuk menguasai
wilayah bekas pusat pemerintahan. Tapi Siti
menolak, dan kabur ke desa asalnya, dibantu oleh
Andi, sahabat setianya sejak kecil.
Di desa, mereka bertemu dengan seorang tokoh tua,
Pak Darto, yang dulu pernah melawan iblisiblis
yang bangkit di masa penjajahan. Ia mengingatkan
bahwa Kitab Lintang hanya bisa digunakan oleh
orang yang punya niat suci, bukan ambisi pribadi.
Azrail, yang sudah mulai menguasai wilayah
Jakarta, membangkitkan mayatmayat yang
tergeletak di kuburan, mengubahnya menjadi
pasukan tak mati. Kota menjadi tempat kekacauan,
dan Siti harus memilih: membiarkan ibu tiri
jahat menguasai dunia atau menggunakan kekuatan
dari Kitab Lintang untuk membangkitkan kekuatan
suci yang tersembunyi.
Dalam pertarungan final di kuburan besar
Cipayung, Siti, dengan bantuan Andi dan Pak
Darto, membaca mantra yang benar—bukan untuk
membunuh, tapi untuk menyelamatkan. Azrail
runtuh, dan kekuatan jahat itu lenyap. Ibu tiri
Rina, yang mencoba menghalangi, terperangkap
dalam kuburan yang sama, dihancurkan oleh
kekuatannya sendiri.
Kota mulai pulih, dan Siti, dengan hati penuh
rasa syukur, memutuskan untuk menjaga Kitab
Lintang sebagai warisan suku. Ia tidak akan lagi
mempercayai seseorang yang tidak punya hati suci.
Epik, namun penuh pelajaran.


