Jakarta 2049. Dunia telah berubah sejak Sistem

Global turun secara serentak: setiap orang

menerima antarmuka pribadi yang mengatur status

sosial, pekerjaan, bahkan hubungan keluarga

berdasarkan poin pencapaian harian. Gagal

memenuhi kuota, maka hakhak sipil terkunci—

termasuk akses ke rumah, makanan subsidi, dan

legalitas perkawinan. Sistem ini bukan alat,

tapi hukum baru yang menggantikan konstitusi

lama. Pemerintah hanya menjalankan protokol;

rakyat tunduk pada notifikasi.

Sinta, ibu rumah tangga di bilangan Cipinang,

dulu hanya mengurus suami dan anak semata wayang.

Sejak Sistem aktif, ia harus menyelesaikan misi

harian: "Kepatuhan Keluarga" dengan

skor minimum

85 untuk tetap diakui sebagai istri sah.

Suaminya, Darmo, pegawai rendahan yang terobsesi

naik level, mulai menghitung nilai Sinta seperti

barang. Setiap kesalahan—makan telat disajikan,

laporan harian tidak diunggah—dikurangi poin.

Ketegangan bukan lagi soal cemburu atau salah

paham, tapi akumulasi pelanggaran sistemik yang

tercatat otomatis.

Pada hari ke17 tanpa poin genap, notifikasi

merah muncul di dinding dapur mereka: Status

Perkawinan Dalam Evaluasi—Alasan: Kinerja Rendah.

Darmo tidak membantah. Ia malah mengajukan

permohonan resmi untuk penggantian pasangan

melalui Jalur Produktivitas Tinggi, tersedia

bagi suami dengan skor komitmen 90. Pengajuan

dikabulkan dalam 12 jam. Sinta dipaksa keluar

dari rumah dinas, dibawa truk pemindahan otonom

ke Zona Penyesuaian Sosial—wilayah pinggiran

tanpa listrik stabil, tempat para "gagal

sistem"

berkumpul dalam sunyi.

Di sana, malam pertama tanpa nama, tanah retak

di dekat sumur tua mulai bergetar. Dari celah

muncul bayangan berbentuk wanita tua dengan mata

kosong dan selendang kain mori. Ini adalah Nyai

Raras, roh penjaga desa yang dulunya dikubur

hiduphidup karena dianggap membawa sial. Ia

tidak mati—tubuhnya menyatu dengan tanah leluhur,

terikat sumpah menjaga darah yang setia. Tapi

Sistem telah menghapus semua jejak desa asal

Sinta. Tanah adat tidak lagi terdaftar. Upacara

tradisional dilarang karena dianggap mengganggu

produktivitas. Nyai Raras bukan hanya terlupakan—

ia terputus dari sumber kekuatan.

Namun saat Sinta menangis tanpa suara di bawah

pohon randu, darahnya menetes ke akar. Ikatan

terbentuk ulang. Roh itu bangkit, bukan sebagai

pelindung lembut, tapi sebagai eksekutor sumpah:

siapa yang mengkhianati ikatan suci, akan

dibayar dalam derita. Aturan roh menyatakan:

pembalasan harus satu banding seratus kali lipat.

Tidak ada ampun. Tidak ada dialog. Hanya hukuman.

Darmo, kini tinggal di apartemen baru dengan

istri cadangan sistem, mulai mengalami mimpi

buruk: tubuhnya terasa dicengkeram tanah,

mulutnya penuh debu. Setiap kali ia mencoba

tidur, selimut basah oleh lendir hitam, bau

tanah basah dan bunga kamboja menyeruak. Pagi

harinya, kulitnya mengelupas seperti terbakar

sinar matahari, padahal ia tidak keluar ruangan.

Dokter menyebut alergi sistemik. Padahal ini

adalah awal dari balas dendam roh.

Sinta tidak kembali secara fisik. Ia memilih

tinggal di Zona, membantu sesama terbuang. Ia

tidak menggunakan senjata atau kekuatan. Ia

hanya menulis namanama pengkhianat rumah tangga

di daun lontar, lalu membakarnya di atas tanah

retak. Nyai Raras membaca abu itu sebagai

perintah. Malam demi malam, lebih banyak suami

"berprestasi" ditemukan gila, mengoceh

tentang

tanah yang menarik mereka, atau mati dengan

wajah tertekuk seolah dicekik oleh tangan tak

kasat mata.

Puncaknya, Darmo dipanggil ke pusat evaluasi

nasional untuk menerima penghargaan Keluarga

Digital Teladan. Saat ia berdiri di panggung,

lampu mati total. Antarmuka semua peserta hang.

Dari layar besar, muncul tulisan dalam aksara

Jawa kuno: TANAH TIDAK LUPA. SUMPAH TIDAK USANG.

Darmo berteriak, tapi suaranya tidak keluar.

Tubuhnya ditelan lantai yang tibatiba menjadi

lunak seperti lumpur. Tidak ada yang bergerak

menolong. Semua orang melihat—dan diam. Sistem

tidak mencatat kejahatan roh. Tidak ada poin

untuk itu.

Esok harinya, Sinta duduk di ambang pintu bekas

rumahnya. Di tanah depan, tumbuh bunga krisan

putih—tanda roh telah menyelesaikan tugas. Ia

tidak merasa menang. Ia hanya bertahan. Di Zona,

lebih banyak daun lontar mulai dikumpulkan. Nyai

Raras tidak lenyap. Ia menunggu nama berikutnya.

Pembalasan tidak pernah berhenti selama masih

ada khianat yang dilindungi sistem.