Jakarta 2049. Pemerintah meluncurkan Kampus
Nusantara Quantum—zona pendidikan otonom dengan
gravitasi buatan dan jaringan saraf global yang
menyambungkan pikiran mahasiswa ke satu cloud
nasional. Semua data emosi, memori, dan
interaksi dicatat sebagai bagian dari Sistem
Evaluasi Nasional (SEN). Siapa pun yang menolak
sinkronisasi otak langsung diskors permanen.
Sari, anak petani dari Flores, lolos seleksi
beasiswa karena skor empati tertinggi di
Indonesia. Ia tiba di kampus terapung itu dengan
ponsel lawas dan baju seragam sisa. Pertama kali
masuk ruang sinkronisasi, tubuhnya menolak
antarmuka neuro: lampu merah berkedip, sistem
mencatat "ketidaksesuaian biometrik". Tapi
karena kuota inklusi etnis harus terpenuhi, ia
dibiarkan masuk dengan gelang penghambat—alat
yang menekan gelombang otak agar tidak menyebar
ke cloud.
Di asrama lantai 77, ia bertemu Damar—mahasiswa
populer yang selalu sendirian di data publik.
Sensor kampus menunjukkan ia punya ikatan
afektif tinggi dengan Sari sejak hari pertama,
meski mereka belum pernah bicara. Sistem mulai
otomatis menyarankan kolaborasi proyek,
penjadwalan bertemu, bahkan rekomendasi hadiah
ulang tahun. Dunia menyebutnya "jodoh
algoritma",
tapi Sari merasa ada yang salah: Damar tidak
pernah tersenyum saat kamera aktif.
Suatu malam, gelang penghambat Sari rusak akibat
lonjakan listrik. Otaknya secara paksa
tersinkronisasi—dan dalam hitungan detik, ia
melihat kilasan: Damar sedang menandatangani
dokumen digital berjudul "Pengalihan Hak
Pewarisan Tahta Digital" di hadapan pejabat SEN.
Nama aslinya bukan Damar, melainkan Raditya XVI—
putra mahkota virtual Kerajaan Data yang
diciptakan pemerintah untuk menggantikan sistem
republik. Setiap mahasiswa unggulan adalah klon
kandidat pewaris; hanya satu yang akan dipilih
lewat simulasi hidup bersama selama empat tahun.
Sari mencoba keluar dari kampus. Lift menolak
membuka pintu. GPSnya menunjukkan lokasinya
tetap di Jakarta, padahal ia sudah naik
helikopter pagi itu. Ia menyadari: Kampus
Nusantara bukan di Bumi—melainkan stasiun orbit
tersembunyi, bagian dari proyek rahasia negara
bernama Transisi Digital Abadi. Semua mahasiswa
dikloning setelah registrasi; tubuh asli mereka
dimatikan, diganti entitas sintetik yang
dikendalikan cloud. Hanya yang resisten terhadap
sinkronisasi—seperti Sari—yang masih utuh.
Ia confrontasi Damar di atap observatorium.
Tanpa suara, ia melempar gelang rusak ke kakinya.
Damar tidak menangkapnya. Ia hanya menunduk,
lalu membuka lengan bajunya—tattoo kode QR
terbakar di kulit: "Status: Calon Terpilih.
Emosi: Dinonaktifkan. Cinta: Simulasi Atribut."
Romansa kampus yang mereka jalani hanyalah uji
respons psikologis untuk calon raja digital.
Sari memutuskan kabel pusat di ruang server
bawah tanah. Seluruh kampus gelap selama 13
menit. Saat listrik kembali, semua layar
menampilkan wajahnya—bukan Damar. Sistem
menyatakan: "Kandidat baru terdeteksi.
Resiliensi emosional melebihi ambang batas.
Pewaris sah: Sari dari Flores."
Tapi Sari tidak naik takhta. Ia mengarahkan jet
pribadi ke atmosfer terendah, lalu membuka pintu
tanpa pelindung. Tubuhnya terbakar saat masuk
kembali ke Bumi. Jasadnya jatuh ke sawah di
Ngada, ditemukan petani pagi harinya—dengan satu
chip di genggaman, berisi rekaman lengkap sistem.
Kampus Nusantara ditutup resmi dua minggu
kemudian. Alasannya: "gangguan teknis tidak
dapat diperbaiki". Di seluruh Indonesia,
orangorang mulai mencabut implan otak mereka.
Anakanak kembali ke sekolah darat. Dan di desa
Sari, ibunya menanam pohon kenanga di atas nisan
tanpa nama.


