Langit Jakarta pecah tiga hari setelah komet
melesat—bukan api, tapi cahaya biru pucat yang
menyelimuti gedunggedung tinggi dan merobek
hamparan tanah desa. Di tengah kekacauan itu,
seorang perempuan muda ditemukan tergeletak di
depan masjid tua, baju kotor, mata kosong, tidak
bisa mengingat nama sendiri.
Dari hari itu, semua orang mulai mengenalnya
sebagai Wanita yang tak punya masa lalu. Tapi
dunia baru telah lahir: listrik mati, tapi
orangorang merasa "dipenuhi" oleh
sesuatu yang
tak terlihat—sebuah getaran halus di tulang
belakang saat menatap langit. Kekuatan
tersembunyi kini aktif: setiap emosi kuat
menciptakan gelombang energi yang bisa
meruntuhkan tembok atau menyembuhkan luka dalam
hitungan detik. Namun aturan keras hadir: tiap
penggunaan kekuatan harus dibayar dengan ingatan—
satu kenangan untuk satu aksi.
Ia diseret ke sebuah kompleks eksperimen di
pinggiran, tempat para penyihir sakti zaman dulu
diklaim telah mati. Di sana, ia menemukan buku
harian berisi catatan berbahasa Jawa kuno: “Jika
kamu tidak ingat siapa dirimu, maka dunia ini
akan kehilanganmu.” Setiap lembar yang dibaca
membuat rasa sakit di kepala, dan bayangan wajah
lain muncul—ibu yang menangis, anak kecil yang
tertawa, suara lakilaki yang berbisik ‘jangan
lupa’.
Pada malam bulan purnama ketiga, ia mencoba
mengingat—dan kekuatan tersembunyi menyala.
Gedung percobaan bergoyang, dinding retak, dan
ribuan ingatan berkelebat: pernikahan kontrak
yang gagal, rumah di Desa Sumberrejo yang
terbakar, dan mimpi tentang sang ayah yang
hilang di tahun 1948. Dengan setiap ingatan yang
kembali, satu bagian dari dunia fisik menghilang—
jalan menjadi kabut, mobil berubah jadi batu.
Di pagi hari, ia berdiri lagi di depan masjid.
Orangorang menatapnya, tidak takut, tidak heran.
Mereka hanya tersenyum—seperti mengenali sesuatu
yang sudah lama hilang. Cahaya biru kembali
menyelimuti langit, lebih redup daripada
sebelumnya. Tapi kali ini, ada sesuatu yang
berbeda: di antara reruntuhan, seorang gadis
kecil bermain bola karet—dan tertawa.
Kekuatan tersembunyi tetap ada. Tapi kini, ia
tidak lagi kehilangan ingatan. Ia memilih—setiap
hari, satu kenangan dipertahankan. Dan di balik
senyumnya, ada rasa damai yang tak pernah terasa
sebelumnya.
Fiksi ilmiah bukan lagi teknologi. Ia adalah
ingatan yang hidup.


