Di sebuah kota kecil di Jawa Timur, tahun 2047,

teknologi telah mengubah cara manusia

berinteraksi. Komunikasi melalui chip otak

menjadi hal biasa, dan hukum baru mengatur siapa

saja yang boleh menikah, berdasarkan data

genetika dan status sosial. Di tengah sistem ini,

Siti, seorang perempuan muda dari keluarga

petani, bekerja di pabrik elektronik sebagai

operator mesin. Ia tak punya harapan besar,

hanya ingin hidup tenang dan menghidupi adiknya

yang masih kuliah.

Suatu hari, ia terjebak dalam kecelakaan kerja

dan harus dirawat di rumah sakit. Di sana, ia

bertemu dengan Ustadz Rizal, pemimpin spiritual

lokal yang juga dikenal sebagai konsultan etika

untuk perusahaanperusahaan teknologi. Ia datang

ke rumah sakit untuk memberikan bimbingan agama

kepada para korban kecelakaan. Kehadirannya

seperti sinar matahari di antara kegelapan.

Siti tertarik padanya, bukan hanya karena

kekarismatikannya, tapi juga karena sikapnya

yang tulus. Namun, Rizal tidak bisa melupakan

kasta sosial Siti—ia adalah anak dari keluarga

miskin, sedangkan Rizal lahir dari keluarga

pejabat dan memiliki akses ke teknologi terbaik.

Mereka saling menyukai, tapi hukum kota melarang

hubungan antara dua kasta.

Siti mulai mengikuti seminarseminar Rizal, dan

secara diamdiam, ia mempelajari agama Islam

dengan tekun. Dalam proses itu, ia merasa

semakin dekat dengan keyakinannya sendiri, serta

menemukan kekuatan untuk melawan ketakutannya

akan masa depan. Rizal, sementara itu, terus

berusaha mengubah hukum kota, meski banyak

tekanan dari keluarganya dan kalangan elite.

Puncak konflik terjadi saat Siti mengungkapkan

perasaannya. Rizal harus memilih: meninggalkan

keluarganya atau menjalani hidup tanpa status

resmi. Tapi ia memilih untuk menikahi Siti

secara rahasia, di bawah langit yang sama, tanpa

izin resmi. Mereka mengadopsi teknologi

"sinting"—sistem penyembuhan emosional

berbasis

AI yang diizinkan oleh hukum—untuk mengatasi

trauma masa lalu Siti.

Akhirnya, mereka membangun kehidupan bersama di

luar sistem, menjalani cinta mereka dengan

risiko, tapi juga dengan keberanian. Mereka

membuktikan bahwa cinta bisa mengubah dunia,

bahkan di bawah aturan yang ketat.