Jakarta 2049. Udara berat oleh kabut polusi dan

pancaran hologram iklan asing. Pemerintah pusat

telah menyerahkan pengelolaan keamanan kota

kepada Sistem NEXUS—platform fiksi ilmiah yang

mengubah konflik sosial menjadi turnamen bela

diri terpantau AI. Setiap pertarungan dicatat

sebagai data kepatuhan; setiap poin membuka

akses listrik, air, dan rasio pangan untuk

lingkungan pemain. Mereka yang kalah digeledah

oleh drone, dicatat sebagai "tidak

produktif",

lalu dikirim ke zona isolasi tanpa nama.

Sistem ini lahir dari kekacauan pascaTransisi:

setelah revolusi digital gagal, negara mundur,

dan mekanisme dunia bergeser—manusia tidak lagi

dihukum dengan penjara, tapi dengan penghapusan

nilai sosial. Skor menentukan eksistensi.

Wajahwajah lenyap dari database jika skor nol.

Tidak ada mayat, hanya pengumuman otomatis:

"Status: Tidak Terdaftar".

Di kampus Universitas Borobudur, Rara Prameswari—

mahasiswi ambisius dari desa Kebumen—menyamar

sebagai peserta program beasiswa elit. Ia

menyimpan kartu identitas saudara kembar yang

mati saat kerusuhan NEXUS tahun lalu. Setiap

hari ia bertarung melawan algoritma verifikasi

wajah, memakai lensa kontak penekan biometrik

hasil curian dari pasar gelap Tanah Abang.

Suatu subuh, poster cahaya muncul di dinding

kampus: Turnamen Bayangan dibuka. Hadiah utama:

status sipil permanen dan akses ke jaringan

pendidikan nasional. Pendaftaran otomatis bagi

mereka yang skor bawah ambang batas. Rara

dipaksa masuk—sistem mendeteksi anomali

identitasnya. Ia harus bertahan tiga ronde atau

dihapus.

Ronde pertama diadakan di bekas halaman Monas.

Lawannya: mantan guru SMK tempat Rara dulu

belajar. Pertarungan singkat. Rara menang. Tapi

saat sistem mencatat kemenangan, layar

menunjukkan potongan usia: 3 tahun hidup. Aturan

pertama terbukti: kemenangan mengambil umur.

Tidak ada yang tahu siapa yang membayar.

Ronde kedua diadakan di lorong bawah tanah

Manggarai. Peserta dipaksa bertarung dalam gelap

total, didengungkan suara mantramantra kuno yang

direkam dari situs candi. Beberapa petarung

gemetar, terkena serangan panik massal. Rara

menggunakan peluit kuntilanak—benda mistik

daerah yang diberi ibunya—untuk memecah

frekuensi suara aneh. Ia menang lagi. Usia

berkurang lima tahun. Kulitnya mulai retak

seperti tanah kering.

Malam final diadakan di Menara Mandiri yang

sudah kosong. Empat peserta terakhir. Sistem

mengumumkan aturan baru: hanya boleh ada satu

pemenang. Jika lebih dari satu masih bernapas

saat jam menunjuk 00.00, semua skor akan nol.

Tidak ada pengecualian.

Pertempuran berlangsung tanpa lampu. Darah

mengalir di lantai marmer. Rara melumpuhkan dua

lawan. Yang terakhir adalah anak kecil—dipaksa

masuk karena ayahnya menunggak pajak data. Rara

berdiri. Anak itu terjatuh. Detik terakhir.

Layar menyala: “Pemenang: Rara Prameswari.”

Tapi tubuhnya tidak bergerak. Matanya kosong.

Identitasnya tercatat aktif, tapi rekam jejak

emosional hilang. Sistem menyatakan: “Subjek

telah melewati ambang batas pengorbanan. Status:

Netral.”

Esok pagi, Rara duduk di halte TransJakarta.

Orangorang lewat. Tidak ada yang mengenalinya.

Ia membawa kartu sipil emas, tapi tidak bisa

membaca namanya sendiri. Di langit, iklan NEXUS

menyala: “Keberhasilan dimulai dari pengorbanan.

Di pojok terminal, seorang nenek menjatuhkan

foto keluarga. Rara memungutnya. Pandangannya

kosong. Ia menyerahkan kembali—tanpa senyum,

tanpa ingatan. Angin membalik foto. Di baliknya

tertulis: “Jangan lupa siapa kamu.”

Foto itu lenyap dalam kerumunan.