Jakarta 1946, tiga bulan setelah proklamasi.
Kota bukan lagi milik manusia hidup. Mayat yang
tak dikuburkan dengan doa lengkap bergerak lagi—
tapi bukan manusia, juga bukan hewan. Mereka
menyeret tubuh rusak, mata kabur merah, mulut
berbisik namanama yang belum disebutkan di
daftar korban Belanda. Warga menyebutnya orang
gila yang belum mati, tapi ustadz setempat tahu:
ini azab karena darah sesama tertumpah tanpa
restu. Dunia berubah—kematian bukan akhir, tapi
pintu yang bocor.
Di desa pinggir Cisadane, Surti kembali dari
kamp pengungsian dengan bayi di punggung dan
luka di dada—bukan luka fisik, tapi bekas suami
yang tewas di tangan temannya sendiri saat
rebutan senjata gerilya. Ia tak menangis. Ia
hanya menyimpan surat kematian itu di dalam saku
kemben, dibalut kain jarit ibunya. Saat malam
pertama pulang, ayamayam mati berbaris di depan
rumah. Bukan dimakan, bukan digigit—mati tegak,
leher miring ke utara. Tak ada yang berani masuk.
Keesokan hari, tetangga menemukan anak kecil
berjalan di sawah subuh, baju compangcamping
tentara KNIL. Anak itu tak menjawab, tapi
tangannya menunjuk Surti. Dari situlah wabah
menyebar: setiap orang yang merasa dikhianati,
yang hatinya penuh dendam terpendam, menjadi
pintu bagi arwah lapar. Mereka yang disentuh
oleh tangan si "anak KNIL" akan
bangkit tiga jam
setelah mati—dengan ingatan patah, hanya mampu
mengucap satu kalimat: kenapa kamu? Sebelum
dunia ini, orang mati tak bicara. Sekarang
mereka bicara, dan dunia tak bisa purapura lagi.
Surti tidak lari. Ia pergi ke makam massal bekas
tempat penyiksaan Jepang, tempat ia dulu
menyaksikan saudaranya dibakar hiduphidup. Di
sana, ia meletakkan foto suaminya, membakar dupa
dari kemenyan campur rambutnya sendiri. Api
menyala biru. Dari asap, muncul wujud tinggi,
kulit retak seperti tanah kering, mata dua api
kecil yang tak berkedip. Iblis Pencemburu. Ia
bukan datang untuk menghukum Surti—ia datang
karena merasa ditinggalkan. Ia adalah jelmaan
semua rasa cemburu yang tak terselesaikan sejak
zaman kolonial: antara pejuang dan petani,
antara imam dan kiai, antara suami dan istri
yang saling curiga.
Iblis berkata: Aku ada karena kalian terus
memilih dendam. Ia menawarkan satu jalan: bakar
semua surat kematian, semua dokumen
pengkhianatan, semua foto yang disimpan sebagai
bukti sakit hati. Tapi harus dilakukan oleh yang
terluka, di tempat darah pertama tumpah. Jika
tidak, seluruh pulau akan menjadi tanah arwah—
hidup dan mati tak bisa dibedakan lagi.
Surti kembali ke Jakarta. Ia mengumpulkan para
janda gerilya, para tahanan politik yang baru
bebas, para santri yang kehilangan guru. Di
tengah reruntuhan gedung Balai Kota, mereka
membakar tumpukan kertas—surat wasiat palsu,
laporan pengkhianatan, catatan dendam yang
ditulis diamdiam. Api membubung tinggi, warna
merah darah. Saat terakhir, Surti melemparkan
surat kematian suaminya. Ia tak membacanya. Ia
hanya menatap apinya, lalu duduk bersila,
menangis untuk pertama kalinya.
Api padam. Hujan turun deras, pertama kali
setelah enam minggu. Di seluruh wilayah,
tubuhtubuh yang bangkit berhenti bergerak.
Mereka rebah, tenang, seperti tidur. Bayi di
punggung Surti tersenyum, pertama kalinya.
Hari berikutnya, pasar kembali buka. Anakanak
bermain di jalan yang dulu jadi medan tembak.
Tak ada yang menyebut kejadian itu lagi. Tapi
setiap Lebaran, di halaman belakang rumah Surti,
dupa mengepul sendiri selama tiga menit. Dan
angin selalu berhenti, seolah mendengarkan.


