Desa Karangmangu terbakar malam itu, bukan hanya

rumah, tetapi juga nama keluarga Sastrodihardjo.

Tentara Belanda menembak ayah dan kakak

lakilakinya sebagai simbol kolaborator palsu—

dilaporkan oleh Raden Martokusumo, tuan tanah

setempat yang licik dan oportunis. Ibu

tergantung di pohon jambu, mayatnya dibiarkan

sebagai peringatan. Hanya satu anak selamat:

Ratri, perempuan 17 tahun, tersembunyi dalam

sumur kering selama tiga hari tanpa suara.

Keesokan pagi, tubuhnya keluar dari lumpur hitam,

wajah tertutup debu dan darah kering. Ia

menemukan sisa seragam pemuda pejuang yang mati

di parit. Mengenakannya, memotong rambut dengan

pisau dapur, membakar surat nikah calon suaminya—

yang ternyata telah bekerja sama dengan

Martokusumo untuk menyerahkan desa. Dunia baru

dimulai: bukan lagi soal siapa dirinya, tapi

siapa yang harus mati.

Revolusi mengubah mekanisme dunia: hukum tidak

lagi dipegang pengadilan, tetapi senapan gerilya;

identitas bukan dokumen, tapi penampilan dan

nyali. Ratri menyusup ke barisan laskar Pemuda

Sabilillah dengan nama samaran “Raden Agung”,

dikira putra bangsawan yang hilang. Tubuhnya

mulai berubah—latihan keras, diet daun singkong

dan air kelapa, membuat postur lebih tinggi,

otot mengeras, suara dipelintir agar tak pecah.

Transformasi fisik ini menjadi pintu: ia bukan

lagi korban, tetapi ancaman yang tak terdeteksi.

Martokusumo, yang kini bekerja sebagai mediator

bagi Belanda sekaligus diamdiam mendanai

kelompok bersenjata nasionalis, membangun citra

sebagai penyelamat desa. Ia mengatur distribusi

beras melalui gereja tua, menampung para yatim

piatu—termasuk Ratri yang kini berwajah asing.

Di balik kebaikan itu, ia mencatat siapa yang

patuh, siapa yang curiga, siapa yang harus

lenyap. Aturan tak tertulis: makan berasnya,

maka kau milik dia. Pelanggar akan "

ditemukan"

tewas di sungai dengan mulut penuh gabah.

Ratri bertahan dua bulan, menyimpan racun dari

getah randu yang disiapkan ibunya dulu sebagai

penangkal siluman. Setiap kali Martokusumo

berpidato tentang perdamaian dan persatuan, ia

menatap mata lelaki itu—dingin, tanpa kedip,

seperti pocong yang menunggu waktu. Saat pasukan

NICA menyerang pos laskar di utara, Martokusumo

naik mobil menuju markas Belanda untuk

"negosiasi". Ratri menyelinap ke

gudang beras,

menusukkan jarum besi ke tongtong yang tersisa,

menyuntikkan cairan bening dari akar tuba.

Hari panen tiba. Desa berkumpul untuk makan

besar. Martokusumo memotong semangka pertama,

tertawa keras. Mereka semua makan. Satu jam

kemudian, tubuhnya mulai gemetar. Mulutnya

mengeluarkan busa. Ia merangkak, menunjuk ke

arah Ratri—tapi tidak mengenalinya. Lelaki itu

yang dikenalnya sebagai Raden Agung kini berdiri

tenang di ambang pintu, wajah hitam oleh asap

obor, tangan terlipat di dada.

Martokusumo mati dengan lidah membiru, jari

mencengkeram tanah. Orangorang berteriak

keracunan, tapi tak ada yang menyalahkan Ratri.

Mereka pikir Belanda yang bertanggung jawab.

Dalam kekacauan, Ratri membuka topeng mukanya—

rambut pendek, dahi lebar, suara parau—dan

berdiri di depan makam keluarganya. Ia tidak

menangis. Ia membakar seragam palsu itu di atas

nisan.

Api menyala tinggi. Angin membawa abu ke sawah

yang mulai hijau. Anakanak desa menggambar wajah

pahlawan di dinding sekolah—wajah lakilaki

bernama Raden Agung. Ratri berjalan ke timur,

menuju pegunungan, tempat laskar masih butuh

orang yang bisa bertahan tanpa nama. Hari

terakhir musim kemarau, hujan turun pertama kali.

Tanah retak mulai menyerap air. Langit berubah

dari kelabu menjadi biru pudar.