Pada tahun 1947, di tengah kekacauan perang
kemerdekaan, seorang penyihir muda dari kalangan
bangsawan Jawa menguasai ilmu gaib yang
turuntemurun. Ia diberi tugas rahasia oleh
keluarganya untuk memastikan keberlanjutan
pengaruh mereka di masa depan.
Saat pihak kolonial menghancurkan pusat bisnis
utama di Surabaya, keluarga bangsawan mencoba
menyelamatkan aset mereka dengan cara tidak sah.
Penyihir itu dipaksa mengubah kekuatan magisnya
menjadi alat perdagangan, menyetujui skandal
perusahaan yang melibatkan penyelundupan senjata
dan manipulasi data.
Tekanan meningkat ketika polisi militer
menemukan bukti palsu yang menghubungkan
penyihir dengan pembunuhan dua pejabat lokal. Ia
harus memilih antara membela keluarganya atau
mengungkap kebenaran yang bisa meruntuhkan
seluruh struktur kekuasaan yang telah ia jaga
selama ini.
Dalam pertemuan rahasia di sebuah rumah tua di
Yogyakarta, penyihir itu menggunakan kekuatannya
untuk menghilangkan bukti, tetapi efek magisnya
menyebar ke wilayah sekitar, membuat orangorang
di sekitarnya mengalami mimpi buruk yang
berulang. Ini menjadi petunjuk bahwa magis tidak
bisa dibuat untuk keuntungan pribadi tanpa
konsekuensi.
Akhirnya, penyihir itu memutuskan untuk
menghadapi pihak berwenang, mengungkap skandal
tersebut secara terbuka. Meski terkena ancaman
hukuman, ia berhasil memperbaiki citra
keluarganya dengan menunjukkan bahwa kekuatan
magis adalah alat untuk keadilan, bukan
kekuasaan semu.
Di akhir tahun 1948, keluarga bangsawan itu
mulai bangkit kembali, tetapi dengan prinsip
baru: magis hanya boleh digunakan untuk kebaikan,
bukan untuk kekuasaan. Penyihir itu sendiri
memilih hidup di luar lingkaran elit, menjaga
keseimbangan antara masa lalu dan masa depan
yang masih belum pasti.


