Kota bekas berubah menjadi hutan abuabu. Air

bersih langka. Listrik tidak pernah kembali.

Penduduk berlari mencari tempat aman, tetapi tak

ada yang selamat.

Ibu tiri menutup pintu rumah, membiarkan

suaminya dan anakanaknya mati di luar. Dia

menghitung sisa makanan, memperhatikan bocah

kecil yang menangis. Dia tidak bisa membantu.

Dia harus bertahan.

Pahlawan rakyat datang dengan senjata kayu. Dia

mengetuk pintu. Ibu tiri tidak menjawab. Dia

melihat mayat di luar, termasuk putranya. Dia

merasa marah, tapi dia juga lapar. Dia duduk di

luar, menunggu.

Malam hari, ibu tiri membuka pintu. Dia memberi

bocah itu sepotong roti. Pahlawan rakyat menolak.

Dia ingin balas dendam. Dia menyerang, tetapi

ibu tiri menunjukkan surat dari suaminya. Surat

itu menyatakan bahwa dia telah memilih untuk

mati, bukan bertahan.

Pahlawan rakyat berdiri diam. Dia merasa malu.

Dia pergi, meninggalkan ibu tiri dan bocah itu

di tengah kegelapan. Mereka akan hidup, meski

hanya sedikit.

Di kejauhan, angin berbisik tentang masa depan.

Tidak ada harapan, tapi juga tidak ada

keputusasaan. Hanya kesedihan yang terus

berjalan.