Jakarta tidak lagi bernyawa. Setelah ledakan

nuklir memutus jaring listrik global dan

meruntuhkan semua sistem negara, hanya gugusan

beton retak dan pepohonan radioaktif yang

tersisa. Angin membawa abu dari bekas Monas,

tempat kini menjadi altar batu bagi kelompok

survivor yang menyembah sisa teknologi sebagai

dewa. Dunia berubah: tanah tidak bisa ditandai

milik, air hanya datang dari kondensasi malam,

dan suhu siang hari cukup panas untuk melelehkan

plastik. Hukum lama mati. Yang hidup mengikuti

aturan baru: siapa yang bisa melahirkan, dia

harus dikawal; siapa yang bisa membunuh tanpa

gemetar, dia menjadi pemimpin.

Seorang wanita muda, Sari, tinggal di bunker

bawah tanah bekas gedung DPR. Ia satusatunya

yang masih bisa menanam tomat mutan di atas

tanah asing. Ibunya telah mati dua tahun lalu,

digantung oleh kelompok penyelamat karena

dituduh menyebarkan virus. Ayahnya menikah lagi

dengan seorang mantan perawat rumah sakit jiwa,

Nyai Ratna, yang kini menguasai distribusi

antibiotik dan vaksin palsu. Ratna menyebut

dirinya Ratu Gudang, mengklaim bahwa darahnya

punya antibodi unggul—mitos yang dipakai untuk

menguasai kelompok pengungsi.

Sari tidak percaya pada darah suci. Ia belajar

dari jurnal tua tentang fermentasi, filter alami,

dan cara menetralkan radiasi tanah. Ia bekerja

diamdiam, membagi hasil panen ke anakanak yatim

di lorong bawah tanah. Tapi Ratna tahu. Ia

mencuri benih terakhir, lalu menuduh Sari

menyembunyikan makanan. Hukuman: tiga hari

dikurung di ruang steril bekas laboratorium,

tanpa oksigen tambahan.

Sari selamat. Ia menemukan ventilasi rahasia

yang masih berfungsi karena sistem geotermal

bawah tanah belum sepenuhnya mati. Ia juga

menemukan dokumen lama: daftar nama pejabat yang

menyimpan bunker pribadi, termasuk lokasi paspor

dan senjata api. Salah satunya tercatat atas

nama ayahnya—dan ditandatangani oleh Ratna

sembilan bulan sebelum kiamat.

Ketika Ratna mengumumkan bahwa ia akan

menikahkan Sari dengan komandan milisi buta demi

aliansi politik, Sari tidak menolak secara

langsung. Ia malah menyetujui upacara di atas

reruntuhan Istana Merdeka, tempat semua pemimpin

lokal berkumpul. Di tengah ritual, ia membuka

kotak logam berisi paspor asli dan rekaman data

dari server lama. Ia letakkan di atas meja batu—

bukti bahwa Ratna bukan korban, tapi penyusup

yang sengaja memicu peluncuran rudal palsu agar

chaos terjadi dan kekuasaan bisa direbut.

Kerumunan marah. Tapi tidak ada yang bergerak.

Sampai Sari menusuk leher sendiri dengan pisau

baja antikarat—darahnya mengalir ke tanah,

membuktikan bahwa tubuhnya tidak terinfeksi,

tidak seperti Ratna yang selalu mengenakan

sarung tangan. Darah Sari disambut dengan doa.

Orangorang mulai melempar batu ke arah Ratna.

Ratna kabur ke bunker utama. Sari mengikutinya.

Di dalam, ia temukan ayahnya sudah mati—diracun,

mulut berbusa, di kursi roda depan layar mati.

Ia temukan juga senapan laser otomatis yang

masih aktif, terhubung ke generator geotermal.

Sistem itu hanya bisa diaktifkan oleh sidik jari

orang yang pernah terdaftar sebagai warga negara

sah. Sari adalah satusatunya yang tersisa.

Ia tidak menembak Ratna. Ia aktifkan sistem

pertahanan otomatis—seluruh bunker terkunci,

ventilasi tertutup, suhu naik hingga 70 derajat

Celcius. Ia tinggalkan Ratna di dalam, bersama

mayat suaminya dan mimpi takhta darah yang

siasia.

Esok pagi, Sari berdiri di puncak Menara Mandiri

yang retak. Ia bakar semua paspor, semua dokumen

kepemilikan. Ia tanam benih terakhir di celah

beton, lalu biarkan angin membawa abu ke seluruh

kota. Tidak ada raja. Tidak ada ratu. Hanya

tanah, darah yang layak, dan orangorang yang

belajar hidup tanpa warisan kekejaman.

Aturan baru: siapa yang menanam, dia yang makan.

Siapa yang menyembuhkan, dia yang dipercaya.

Siapa yang membunuh demi kuasa, dia yang dikubur

tanpa nama.

Tidak ada yang menyebut Sari pemimpin. Tapi

semua anak yatim tahu di mana mencari tomat.