Kota yang dulu ramai berubah menjadi reruntuhan.

Jalanan kosong, lampu padam, dan suara orang

hilang. Di tengah kekacauan itu, selir muda

menemukan dirinya terjebak dalam permainan tak

terlihat.

Dia diberi tugas oleh tuannya: mengumpulkan

bendabenda purba yang tersisa dari masa lalu.

Bendabenda itu dianggap memiliki kekuatan magis,

namun tidak ada yang tahu pasti apa yang akan

terjadi jika dikumpulkan.

Selir itu menyadari bahwa setiap langkahnya

diteliti. Pihakpihak yang ingin memanfaatkan

kekacauan ini mencoba mengendalikannya. Dia

harus memilih antara tetap setia pada tuannya

atau mencari jalan sendiri.

Pada malam ketiga, dia menemukan sebuah patung

kecil di bawah reruntuhan gereja. Saat dia

mengangkatnya, angin berhembus keras dan

bayangan bergerak di sekelilingnya. Suara

bisikan muncul, menawarkan kekuatan dalam

pertukaran.

Dia menolak. Namun, kekuatan itu sudah mulai

bekerja. Pria yang pernah ia cintai tibatiba

muncul dengan wajah asing, berpurapura sebagai

saudara. Dia dibuat untuk mempercayainya, tapi

hatinya berkata lain.

Di tengah konflik, dia menemukan bahwa tuannya

adalah salah satu yang bertanggung jawab atas

kekacauan ini. Dia memutuskan untuk membawa

bendabenda itu ke tempat aman, meski berarti

melawan semua yang pernah ia percaya.

Saat matahari terbit, kota masih berdiri, tetapi

kehidupan baru telah dimulai. Selir itu tidak

lagi menjadi alat, tapi pilihan. Dia

meninggalkan kota dengan bendabenda itu, menuju

tempat yang belum pernah ia kunjungi.

Karma instan hadir dalam bentuk keputusan yang

tak bisa dipulihkan. Dia tidak pulang, tapi ia

hidup.