Di tengah reruntuhan Jakarta yang berubah

menjadi kota hantu, Rina, seorang penyihir sakti,

mencoba menyelamatkan diri dari gelombang kiamat

yang merusak alam semesta. Ia tak lagi percaya

pada mantra lama—sebuah perubahan yang muncul

setelah ia menemukan batu ajaib di bawah

reruntuhan Masjid Istiqlal, yang mengubah

kekuatannya dan membuatnya kehilangan ingatan

tentang masa lalunya.

Kekayaan mendadak datang bersama dengan ancaman:

sebuah kekuatan asing, yang disebut "Dewa

Api",

mulai menguasai wilayahwilayah yang masih bisa

ditempati. Rina harus memilih antara

menyelamatkan keluarganya atau membuka rahasia

tentang identitas aslinya yang tersembunyi di

balik mantra yang hilang.

Ia bertemu dengan seorang lelaki bernama Arif,

seorang mantan pejabat yang kini tinggal di

guagua di Gunung Salak. Arif memiliki buku lama

yang menyimpan catatan tentang para penyihir

yang hilang di masa lalu, termasuk nama asli

Rina—yang ternyata bukan lagi Rina, melainkan

seorang tokoh penting dalam perjuangan

kemerdekaan yang lenyap di tahun 1948.

Hukum ketat berlaku: siapa pun yang membongkar

identitas asli penyihir akan dihukum mati oleh

Dewa Api. Dan satu aturan lain: hanya darah

keturunan pahlawan revolusi yang bisa

menghentikan kiamat ini.

Rina akhirnya menghadapi Dewa Api di tengah

danau yang sudah mengering. Di sana, ia

memperoleh kekuatan baru—tidak dari mantra,

tetapi dari ingatannya sendiri. Ia membaca doa

lama yang dilantunkan nenek moyangnya,

menghancurkan kekuatan Dewa Api dengan api yang

justru lahir dari air dan doa.

Kiamat berakhir, tapi dunia tidak kembali

seperti semula. Rina, kini dengan identitas yang

terbongkar, memilih untuk hidup sebagai

pengganti rakyat yang tertinggal, bukan sebagai

penyihir sakti. Dunia kelam itu telah

mengubahnya, tapi ia memilih untuk mengubah

dunia itu juga.