Jakarta 1947, dunia bergeser diamdiam. Senjata
biologis Belanda yang dibuang di rawarawa Bekasi
tidak mati—melainkan berevolusi. Korban tembakau
busuk bukan lagi tanda keracunan, tapi fase awal
transformasi: tubuh tetap hangat, mata tidak
memutih, namun mulai tertawa sendiri dua jam
sebelum menggigit leher sesama manusia. Infeksi
menyebar lewat air sumur dan beras hibah tentara
Sekutu. Era Sejarah bukan latar—tapi penggerak
mekanisme dunia: perjuangan merdeka terpecah
antara melawan penjajah dan membendung "penyakit
setan" yang tak bisa dikubur karena jenazahnya
selalu ditemukan dalam posisi duduk, tersenyum.
Syaikh Amar, ustadz muda dari pesantren Cipanas,
ditugaskan majelis ulama menyusup ke kamp
pengungsian Tanjung Priok. Di sanalah pasukan
NICA menyamar sebagai dokter palang merah,
mencampur vaksin dengan larutan infektor.
Infiltrasi Musuh bukan misi militer—tapi
penyelamatan jiwa lewat mimbar dadakan. Setiap
khutbah Subuh, ia selipkan kode pada doa qunut:
nama desa yang harus dikarantina, tempat
pembakaran massal harus dilakukan tanpa panik.
Ia gunakan mikrofon kayu bekas radio Jepang,
suaranya menyebar seperti gosip pasar pagi—cepat,
percaya, tak bisa dibantah.
Wanita paruh baya bernama Mbak Surti, yang
selalu datang paling depan dengan baki kue
peyeum, ternyata kurir utama. Ia bukan sekadar
pendukung—tapi poros: tiap malam ia selundupkan
abu kemenyan campur kapur barus ke dapur tenda,
satusatunya cara menunda serangan zombie karena
makhluk itu muak pada bau mistik. Saat ia
tertangkap dan dilempar ke sumur, seluruh kamp
menangis—tapi esok harinya, roti isi oncom yang
ia tinggalkan di masjid membuat lima prajurit
NICA tertawa histeris sebelum digotong ke rawa.
Peran Wanita tidak simbolik—tapi fungsional:
tanpa jaringan dapur dan kepercayaan ibuibu,
infiltrasi gagal sejak hari pertama.
Hari ke28, Syaikh Amar mengumumkan puasa sunah
kolektif selama tiga hari—bukan untuk doa, tapi
untuk memaksa semua mulut tertutup. Zombie tidak
muncul saat lapar, tapi saat mendengar suara
manusia. Strategi ini lahir dari candaan anak
kecil: “Kalau kita diam kayak pocong, mungkin
mereka kira kita saudara.” Humoris bukan gaya
bahasa—tapi mekanisme kelangsungan: lelucon jadi
sandi, ejekan jadi peringatan, ketawa palsu jadi
umpan menjebak musuh di jembatan kereta. Satu
kelompok zombie dikumpulkan lewat rekaman suara
bayi yang diputar dari mobil tua.
Pada malam terakhir, Syaikh Amar turun dari
mimbar, menuju laboratorium bawah tanah bekas
bunker Jepang. Di sana, ia temukan formula asli:
“VX7: Laughing Death”. Ia bakar semua catatan,
lalu siram dirinya dengan cairan itu. Tubuhnya
mulai gemetar, sudut bibir naik—tapi ia tetap
membaca ayat terakhir surah Yasin. Saat tentara
NICA menyerbu, mereka melihat puluhan zombie
berbaris rapi mengelilingi mimbar, kepala
tertunduk seperti sedang salat. Yang tertawa
hanyalah angin di antara pohon pisang.
Keesokan pagi, kamp sudah kosong. Hanya tersisa
bubur sumsum di atas tungku—masih hangat—dan cap
sepatu kecil di tanah basah, seolah anakanak
baru saja bermain. Revolusi terus berjalan. Tapi
di setiap pesantren baru, cerita tentang ustadz
yang membuat zombie bersujud jadi dongeng wajib
sebelum tidur—dengan nada rendah, penuh tawa
kecil, dan satu jeda panjang sebelum akhirnya.


