Pada tahun 1948, di sebuah desa terpencil di
Jawa Tengah, langit merah menyala setelah
ledakan mesin penghubung global—sistem
komunikasi nasional yang runtuh selama Perang
Kemerdekaan diganti oleh jaringan otomatis
berbasis batu akik yang memantau loyalitas
penduduk melalui denyut nadi. Setiap warga kini
memiliki dua status: Tanda Suci (warga bersih)
dan Tanda Tersisa (yang dianggap tidak layak),
ditentukan oleh alat itu tanpa proses hukum.
Seorang pria bernama Darmo, mantan wartawan yang
kini menjadi penulis fiksi, hidup sebagai tanda
tersisa karena tulisannya menggambarkan
perjuangan rakyat secara bebas—bukan sesuai
narasi resmi. Ia dilarang mendekati sekolah,
pasar, bahkan tempat ibadah, karena sistem
menganggap karyanya "menyebar fitnah".
Di tengah kesunyian, ia ditemukan oleh seorang
wanita dari keluarga bangsawan yang disebut
“Dewi Ratu”, pemilik satusatunya gedung berlapis
baja di wilayah itu. Ia adalah satusatunya yang
masih bisa menggunakan teknologi lama—mesin
surat elektronik yang berfungsi tanpa sensor.
Mereka bertemu di ruang bawah tanah bekas gudang
beras, di mana kertaskertas tulisan Darmo
terpapar cahaya remangremang.
Hari berikutnya, surat paksa tiba dari Komite
Penilaian Sosial: Darmo harus menikah dengan
Dewi Ratu dalam tiga hari, bukan karena cinta,
tapi untuk mengisi kekosongan "kasta
penuh" yang
dibutuhkan sistem agar tetap stabil. Nikah paksa
ini adalah bentuk pengendalian sosial baru: jika
tidak dilaksanakan, wilayah akan dikunci
selamanya—tidak ada listrik, air, atau akses ke
tanah subur.
Darmo mencoba kabur. Di jalan, sistem mengejar
lewat suara rekaman dari tiang listrik: “Kamu
telah melanggar aturan kemanusiaan yang baru.”
Ketika ia mencoba membakar rumahnya, api padam
sendiri—diblokir oleh sistem yang membaca
gerakan sebagai ancaman.
Pada malam keempat, ia kembali ke ruang bawah
tanah. Di sana, dia menemukan fotofoto lama:
Dewi Ratu ternyata pernah menjadi pembantu di
rumahnya sebelum revolusi. Ia menyimpan semua
suratsurat Darmo yang pernah dikirim, termasuk
surat cinta yang tak pernah sampai.
Sore itu, sistem mengumumkan: “Akad nikah akan
dilangsungkan besok pagi di atas menara baja.”
Darmo tidak muncul.
Di pagi hari, hanya ada asap tebal dari ruang
bawah tanah. Seluruh karya fiksi Darmo—semua
buku, lembaran, naskah—terbakar dalam satu api
yang tidak bisa dipadamkan. Api itu menyala
tanpa angin, seperti menjawab dendam zaman.
Di bawah tanah, selembar kertas terbakar hingga
tinggal abu, namun di atasnya tertulis: "Aku
tidak menikah. Tapi aku juga tidak mati."
Sistem berhenti bekerja selama 72 jam. Kemudian,
tanpa pemberitahuan, batu akik di semua desa
meledak satu per satu. Tidak ada yang tahu apa
artinya. Hanya Darmo, yang kini hilang tanpa
jejak, dikenal sebagai legenda: orang yang
membuat dunia kembali merasa takut pada manusia,
bukan mesin.


