Jakarta 2049. Gravitasi runtuh secara lokal
setelah uji coba Quantum Anchor gagal,
meninggalkan kota terbelah: zona tanpa tarik
bumi dan wilayah darat yang tersisa. Pemerintah
membekukan semua penerbangan konvensional;
satusatunya cara bertahan adalah naik ke Menara
Nusantara—bangunan magnetik raksasa yang menahan
ribuan pengungsi di udara. Siapa pun yang ingin
hidup harus membayar biaya levitasi bulanan,
dikendalikan oleh konsorsium teknokrat bernama
Orbit Utama.
Budi Setiawan, mantan Jenderal Perang dari
kampanye Papua 2035, pensiun dini setelah bom
foton meluluhlantakkan divisi terakhirnya. Ia
tinggal di lantai 178 Menara Nusantara, menjaga
memorial digital anak dan istrinya yang hilang
dalam ledakan. Tubuhnya dipenuhi implan
neuromuskular hasil modifikasi militer—
satusatunya manusia yang bisa bergerak bebas di
koridor nolg tanpa tali panduan. Gerakannya
cepat, hening, seperti arwah.
Di lantai 60, ia melihat Siti Rahayu—dokter masa
muda yang pernah menolak lamarannya karena tugas
negara. Kini ia bekerja di Klinik Tanpa Berat,
merawat pekerja yang cidera akibat kesalahan
kalibrasi levitator. Budi tidak mendekat. Ia
hanya mengamati dari celah ventilasi, menyimpan
rasa dalam diam. Cinta itu tetap ada, tapi
terkunci seperti data yang tidak boleh diakses.
Orbit Utama mengumumkan penggabungan dengan
perusahaan agraria PT Cahaya Bumi—langkah
strategis untuk mengontrol pangan dan gravitasi
sekaligus. Tapi proses ini menyembunyikan
sabotase: mereka sengaja menurunkan pasokan
oksigen ke lantai bawah agar warga terpaksa
pindah ke zona premium. Budi menyadari pola ini
ketika lima puluh penghuni lantai 150170 kolaps
dalam satu malam. Ia temukan catatan internal
bahwa Siti sempat protes ke manajemen—tapi
permintaannya dihapus dari sistem.
Budi memutuskan turun ke pusat kontrol,
satusatunya area dengan gravitasi normal di
dasar menara. Ia melewati loronglorong gelap,
menghindari drone pengintai dengan gerakan
zigzag insting tempur. Di ruang server, ia
temukan bukti lengkap: sabotase bisnis
direncanakan oleh Direktur Orbit Utama yang
ternyata suami Siti, Harjono—pria yang dulu
menggagalkan lamaran Budi dengan tuduhan
subversi.
Budi tidak membunuh. Ia injeksi virus ke
jaringan utama, memaksa sistem membuka semua
katup oksigen dan membuka akses gratis ke lantai
atas selama 72 jam. Aksi ini melanggar hukum
Orbital No. 9: "Tidak boleh ada intervensi pada
distribusi daya apung tanpa izin."
Konsekuensinya—implannya dinonaktifkan permanen
oleh sinyal balasan. Ia kehilangan kemampuan
bergerak di nolg.
Pagi harinya, Siti menemukan Budi tergeletak di
koridor medis, tubuhnya mengambang lemah. Ia
membawanya ke balkon luar, tempat angin masih
bisa dirasakan. Mereka duduk berdampingan,
saling menatap tanpa kata. Matahari terbit
menyinari wajah mereka—dua manusia tua yang
akhirnya bertemu kembali di dunia yang tak lagi
mengenal dasar dan atas.
Gravitasi tidak pernah kembali. Tapi cinta, kali
ini, berhasil menjejak bumi dalam bentuk lain.


