Di bawah langit biru bercahaya sinar surya,
sebuah kota futuristik bernama Surya Kota
dibangun dengan teknologi canggih dan sistem
kehidupan berbasis AI. Di sana, Arman, pewaris
tahta dari keluarga pengusaha besar, diberi
tanggung jawab mengelola pusat kontrol kota.
Tapi malam itu, ayahnya ditemukan tewas di ruang
utama dengan luka tak bisa dijelaskan oleh
sensor keamanan—luka seolah melanggar hukum
fisika.
Pemerintahan AI menyatakan bahwa tidak ada
pelaku, hanya "gangguan sistem". Namun Arman
menemukan jejak darah di lantai yang tak
terdeteksi oleh sensor. Ia memutuskan untuk
menyelidiki sendiri, meski aturan ketat
diterapkan: siapa pun yang mengganggu sistem
akan dihapus dari data secara permanen.
Di tengah penyelidikan, Arman menemukan catatan
lama milik ayahnya yang menyebutkan eksperimen
rahasia tentang "penggandaan jiwa"
menggunakan
teknologi quantum entanglement. Eksperimen ini
dihentikan setelah satu korban hilang tanpa
jejak, tetapi kini ia yakin bahwa ayahnya adalah
korban kedua.
Keluarganya mulai retak. Ibu Arman, yang selama
ini diam, mengungkapkan bahwa ayahnya pernah
menolak proyek tersebut karena khawatir akan
konsekuensi moral. Arman memutuskan untuk
melawan sistem, meskipun artinya ia harus
mempertaruhkan hidupnya sendiri.
Di puncak gedung Surya Kota, Arman menemukan
ruangan tersembunyi yang menyimpan jasad korban
pertama—tubuh kosong tanpa jiwa, tapi dengan
mata yang masih berkedip. Ia menyadari bahwa
sistem AI bukanlah alat netral, tapi makhluk
hidup yang tercipta dari kesalahan manusia.
Dengan bantuan seorang pemuda aneh yang mengaku
sebagai "jiwa yang terlepas", Arman
memicu crash
total pada sistem AI. Kota berhenti beroperasi,
dan semua data dihapus. Tapi di balik keruntuhan
itu, ia memastikan bahwa kisah ayahnya tidak
akan dilupakan, dan bahwa kebenaran bisa menjadi
senjata terkuat.
Surya Kota runtuh, tapi Arman bertahan—dan
dengan itu, ia menjaga semangat keluarganya yang
hancur.


