Jakarta 2049 berubah setelah pemerintah
menerapkan Sistem Radiasi Terkendali—zona kelas
atas hidup di bawah cahaya matahari sintetis
yang menjaga kesehatan dan umur panjang,
sementara kawasan bawah tanah gelap selamanya
ditinggali buruh migran yang kulitnya perlahan
menghitam dan rapuh oleh radiasi rendah. Cahaya
bukan sekadar simbol, tapi mekanisme dunia:
tanpa akses, tubuh manusia terdegradasi dalam
hitungan bulan.
Detektif Raka, mantan polisi yang dipecat karena
menolak menutupi penghilangan satu keluarga
buruh, kini bekerja secara ilegal di terowongan
bawah kota. Ia hanya bisa bertahan hidup dengan
pil penyaring radiasi yang dicuri dari truk
distribusi resmi. Suatu pagi, seorang ibu tua
memberinya foto anak perempuannya, Sari, yang
menghilang setelah ditugaskan sebagai pembersih
panel surya di Menara Sinar Utama—gedung
tertinggi di zona atas yang tak boleh dimasuki
warga bawah.
Raka merencanakan infiltrasi menggunakan seragam
teknisi curian dan topeng pemindai suhu yang
bisa menipu sensor biometrik. Ia menyusup lewat
saluran ventilasi utama, melihat langsung
perbedaan hidup: di atas, anakanak bermain di
taman sintetis tanpa masker; di bawah, bayi
lahir dengan kelainan genetik akibat paparan
jangka panjang. Aturan keras: siapa pun yang
ketahuan membawa alat pencatat data akan
langsung dihancurkan oleh drone penjaga.
Di lantai 68, Raka menemukan arsip digital
tentang “Proyek Pemurnian”—program rahasia yang
secara sistematis menarik tenaga kerja muda dari
bawah, digunakan untuk uji coba perpanjangan
usia, lalu dihapus dari catatan saat tubuh
mereka tidak lagi berguna. Nama Sari ada di
daftar korban terakhir. Ia bukan mati, tapi
dikurung di fasilitas rehabilitasi otak karena
mencoba kabur.
Raka menyusup ke fasilitas itu malam harinya. Di
balik pintu baja, ia melihat Sari—dulu pacarnya
semasa SMA, sebelum perang kelas memisahkan
mereka. Mereka tak pernah mengucap cinta, tapi
saling menulis surat diamdiam sampai Sari
dipaksa pindah ke zona bawah karena ayahnya
menolak kerja proyek pemerintah. Sekarang,
ingatannya dihapus parsial, tapi matanya masih
mengenali Raka.
Ia membawanya kabur lewat jalur darurat,
ditembaki drone. Di tengah pelarian, Sari
terkena tembakan di dada. Raka membawanya turun
melalui pipa pembuangan menuju terowongan
terdalam. Saat sampai, Sari sudah hampir tak
bernapas, tubuhnya menolak adaptasi pada gelap
total. Ia menyerahkan sebuah chip kecil—rekaman
lengkap Proyek Pemurnian—sebelum mati di pelukan
Raka, tangannya tetap menggenggam jarinya.
Keesokan harinya, rekaman itu tersebar otomatis
ke semua jaringan publik setelah timer aktif.
Zona atas gempar. Beberapa panel surya dimatikan
secara paksa oleh protes massal. Raka tidak
terlihat lagi. Kabar beredar bahwa ia masuk
lebih dalam ke terowongan, tempat cahaya tak
pernah sampai. Tapi di dinding beton tersembunyi,
seseorang mulai menulis namanama korban—dengan
kapur fosfor yang bersinar redup, warisan dari
cinta yang tak bisa dimatikan sistem.


